Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Riau, Dr. Mexsasai Indra, S.H., M.H. menjadi pendaftar kedua dalam Pemilihan Bakal Calon Rektor Universitas Riau (Unri) 2026. Saat mendaftar, ia didampingi Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Yuana Nurulita, S.Si., M.Si., Ph.D. Turut hadir pula Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Hermandra, M.A., serta sejumlah dosen dari berbagai fakultas.
Mereka menyambangi Sekretariat Panitia Pemilihan Rektor pada Jumat, 8 Mei 2026. Dikutip dari RiauPos.co, Mexsasai mengaku optimis maju sebagai bakal calon rektor karena pengalamannya di bidang akademik di lingkungan Unri.
Mexsasai mulai menjadi dosen Fakultas Hukum atau FH Unri sejak diangkat sebagai pegawai negeri sipil pada 2008. Ia pernah tergabung dalam Badan Kajian Konstitusi FH, lembaga yang berfokus pada penelitian dan pengembangan hukum tata negara serta isu konstitusional.
Sejumlah jabatan akademik juga pernah diembannya. Mulai dari Koordinator Program Studi, Wakil Dekan Bidang Akademik, hingga Dekan FH. Di luar kampus, ia turut aktif berorganisasi. Salah satunya sebagai pengurus wilayah Riau dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara.
Saat ditemui pada 18 Mei, Mexsasai menyatakan yakin dengan kapasitas manajerialnya. Pengalaman di bidang akademik dan tata kelola kampus membuatnya lebih cepat beradaptasi dalam memetakan persoalan serta arah pengembangan universitas. “Dengan pengalaman dari bawah hingga sekarang sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, saya lebih mudah beradaptasi,” ujarnya.
Unri Berakar, Berpucuk, dan Berbuah
Sebagai bakal calon rektor, pria kelahiran Air Molek itu datang dengan slogan “Menunduk berakar, berpucuk ke atas, berbuah untuk masyarakat.” Baginya, Unri harus unggul, bereputasi global, kolaboratif, lagi berdampak.
Rektor tidak hanya melayani mahasiswa, tapi juga masyarakat. “Karena posisi rektor sebagai top leader [pemimpin tertinggi] di perguruan tinggi, ia mengelola semua aspek yang terkait layanan kepada mahasiswa maupun masyarakat,” jelas Mex.
Dalam bidang akademik, ia merencanakan digitalisasi guna perbaikan layanan. Mulai dari kurikulum berstandar internasional, penjaminan mutu setiap program studi, hingga layanan akademik bagi mahasiswa. Hal ini dinilai Mex sebagai momentum Unri untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa.
Membahas tata kelola dan keuangan, prinsip-prinsip akuntabilitas juga harus ditegakkan. Kemandirian Unri mencari pemasukan selain Uang Kuliah Tunggal (UKT) melalui pemanfaatan aset. “Kemandirian keuangan harus lebih lincah dan berkelanjutan,” begitu katanya.
Dosen FH itu turut membahas keunggulan Riau sebagai daya tawar global. Tidak hanya sawit, kemaritiman, dan potensi energi. Identitas serumpun dengan negara tetangga dan Riau sebagai tanah Melayu perlu dipupuk sebagai identitas akademik global Unri.
“Budaya Melayu perlu dikapitalisasi sebagai identitas akademik global. Jadi kita tetap mengakar pada nilai budaya lokal meski internasionalisasi harus ditempuh oleh perguruan tinggi. Keunggulan Riau belum jadi daya tawar global,” jelas Mex.
Mimpi Unri PTH-BH dan Segudang Masalah Kampus
Mexsasai menilai target Unri menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) dapat dicapai. Dengan aset yang sudah dikelola secara mandiri oleh Unri, akselerasi menuju PTN-BH jadi sebuah keniscayaan. “Kita pasti mengarah ke sana,” ujarnya.
Kendati demikian, ia mengingatkan agar proses transformasi dari PTN Badan Layanan Umum (PTN-BLU) menuju PTN-BH tetap dirumuskan secara hati-hati agar Unri tidak menghadapi kesulitan dalam proses transisi.
Menanggapi keluhan mahasiswa terkait lambatnya server Portal Akademik Mahasiswa, Mexsasai kembali menekankan pentingnya transformasi digital di lingkungan kampus. Ia mengatakan Unri sebelumnya telah melakukan investasi di bidang teknologi informasi. Tujuannya jelas untuk menyesuaikan kebutuhan mahasiswa dan dosen yang terus berkembang. “Saya kira sudah cukup bagus. Tinggal kita kembangkan lagi,” pungkasnya.
Mexsasai mengakui sarana dan prasarana antar fakultas di Unri masih belum merata, namun sudah ada peningkatan. Selain membahas layanan bagi civitas akademika, ia juga sempat menyinggung isu kekerasan seksual di lingkungan kampus. Namun, sejumlah persoalan lain termasuk isu kenaikan UKT, belum ia jawab karena perlu kajian lebih lanjut soal besaran Biaya Kuliah Tunggal atau BKT.
Menurutnya, perlu langkah preventif untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman. “Perlu instrumen lain yang harus dilakukan sehingga kampus aman bisa tercapai,” ujarnya.
Menutup wawancara, Mexsasai menyatakan terbuka terhadap kritik selama disampaikan dalam koridor yang wajar dan sesuai peraturan yang berlaku. Ia juga menilai pola kepemimpinan otoriter tidak lagi relevan diterapkan di kampus.
“Kami sebagai pimpinan akan membuka ruang. Masalah mahasiswa akan kita jelaskan dan sepanjang disampaikan sesuai regulasi, saya kira tidak ada masalah,” katanya.
Pewarta: M. Rizki Fadilah
Penyunting: Muhammad Naufal Ihsan

