Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Kenal Sastrawi X berlangsung selama lima hari, 10-14 Juni 2026. Kegiatan berlangsung di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Riau dan dengan peserta dari sepuluh Lembaga Pers Mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia.

Selesai belajar feature bersama Mawa Kresna, Jurnalis dari Tempo, Erwan Hermawan memaparkan materi jurnalisme investigasi. Mulai dari pengantar, teknik analisis seperti paper trail, people trail, money trail, hingga tata cara menghadapi narasumber yang tertutup. Selain itu, ia juga mengajarkan peserta cara melakukan observasi lapangan, langkah verifikasi, risiko, dan etika dalam investigasi.

Membuka kelas, Erwan mengajak peserta belajar lebih dalam lagi mengenai Jurnalisme Investigasi. Berbeda dengan straight news yang mengandalkan kecepatan, investigasi hadir dengan format lebih panjang, mendalam, dan bertujuan mengungkapkan informasi tersembunyi atau skandal yang tertutup dari publik. 

Lulusan Institut Pertanian Bogor itu pun membedakan liputan investigasi dan in-depth news. Investigasi tidak semata berfokus pada cerita, skandal, atau tokoh yang terlibat, tetapi juga harus didukung oleh bukti yang kuat. Sementara in-depth news lebih menekankan pendalaman informasi terhadap suatu peristiwa. 

“Jurnalisme Investigasi itu berat” ujar Erwan setengah bercanda. Lebih jauh ia menjelaskan esensi dari investigasi sebagai proses menulis dan mengumpulkan bukti. Pun ia menekankan peran jurnalis dalam melakukan peliputan.

Bagi jurnalis Majalah Tempo sejak 2013 itu, jurnalis hanya harus menulis fakta tanpa opini pribadi. Mengingat tugas mereka bukan sebagai aktivis, sehingga tidak perlu menambah atau mengurangi informasi yang diberikan narasumber. 

“Jurnalis bukan seorang aktivis. Tugas jurnalis menyajikan berita sesuai dengan fakta, tidak perlu di tambah atau kurangi,” ucapnya menjelaskan.  

Ia kemudian membahas kemampuan yang harus ada pada seorang jurnalis. Pekerjaan ini dituntut harus memiliki beberapa kemampuan di dalam kinerjanya. Seperti harus profesional, skeptis, dan berpedoman pada etika jurnalistik. Setiap berita yang dihasilkan juga harus memenuhi nilai yang ada, mulai dari magnitude atau dampak dihasilkan, kedekatan geografis antara jurnalis dengan lokasi berita, dan ketokohan atau figur dalam berita. Diluar itu, juga ada aktualisasi, yakni kecepatan dan ketepatan berita dimuat dan urgensi informasi diketahui publik. 

Sebagai penutup sesi, peserta mendapat tugas untuk mencari isu yang ada di lingkungan kampus mereka. Isu nantinya akan menjadi bahan latihan peserta dalam menerapkan teknik investigasi yang telah dipelajari selama pelatihan berlangsung. Penerima Penghargaan Best Sustainability in Journalism Award tahun 2019 itu berharap semua isu yang telah dikembangkan agar rampung menjadi sebuah liputan investigasi saat peserta kembali ke daerah masing-masing. 

Pewarta: T. Natasya Shavia Azzahra, Muhammad Naufal Ihsan
Penyunting: M. Rizki Fadilah