Nofrizal Bawa Gagasan Unri Unggul dan Daya Saing Tinggi di Pilrek 2026

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau (FPK Unri), Prof. Dr. Ir. Nofrizal, M.Si menjadi pendaftar keenam dalam Pemilihan Bakal Calon Rektor Unri periode 2026-2030 pada Jumat, 8 Mei 2026. Nofrizal mengusung visi Unri Unggul dan Berdaya Saing Tinggi. Menurutnya visi misi harus terukur agar mudah dicapai dan dievaluasi.

Nofrizal menilai setiap pergantian rektor seharusnya diikuti dengan kejelasan arah perubahan dan fokus pengembangan universitas. Perguruan tinggi memiliki tiga tujuan utama, yakni Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di antaranya berupa penelitian, pendidikan dan pengajaran, serta pengabdian kepada masyarakat.

Ia menerangkan penelitian berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Sedangkan pendidikan dan pengajaran menjadi fungsi penting dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Serta pengabdian kepada masyarakat sebagai medan penerapan hasil pendidikan dan penelitian.

Salah satu gagasan doktoral lulusan Tokyo University itu adalah merevisi statuta Unri. Ia menilai peraturan dasar itu punya pasal yang tidak rasional. Seperti batasan usia anggota senat yang maksimal 60 tahun untuk profesor. 

Menurut Nofrizal, profesor dengan usia 70 tahun justru dapat lebih bijak dan netral. Sangat cocok untuk tugas normatif senat yang menasihati pengelolaan universitas. “Dosen muda yang baru lima sampai enam tahun di Unri belum tentu kenal seluk-beluk kampus,” pungkasnya pada Kamis, 21 Mei 2026.

Ia mengusulkan demokratisasi dalam pemilihan dekan. Menurutnya senat fakultas yang memilih dekan, bukan ditunjuk rektor langsung. Demokrasi merupakan hasil reformasi yang tidak boleh dilumpuhkan di kampung sendiri. Sepanjang pengalamannya sejak 1994, tidak pernah ada dekan yang membangkang rektor. Adanya hanya kelalaian yang bisa diselesaikan dengan monitoring dan evaluasi. 

Dalam tata kelola keuangan, Nofrizal menginginkan alokasi anggaran lebih besar untuk fakultas ketimbang  rektorat. Saat ini porsinya 33 persen untuk fakultas dan 67 persen untuk rektorat. Apabila alokasi keuangan ke fakultas terlalu kecil, maka fakultas akan mengalami keterbatasan dan ketimpangan keuangan. Juga dapat melemahkan daya saing antar program studi. “Padahal produksi utama universitas berada di fakultas,” ujarnya.

Soal insentif riset Nofrizal soroti menurunnya insentif publikasi jurnal. Biaya publikasi di jurnal internasional bereputasi bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tak urung banyak dosen yang sudah siap menulis tetapi tak punya dana. Jika jadi rektor, Nofrizal akan menawarkan biaya publikasi dengan insentif, sehingga dosen tidak terbebani. “Insentif publikasi seharusnya tidak dipandang sebagai beban anggaran, tetapi sebagai investasi reputasi akademik universitas,” ucapnya. 

Dalam pendanaan riset, dia mengusulkan sistem yang lebih adil. Pendanaan diadu per fakultas, bukan se-universitas. Dengan kuota proporsional, peneliti muda memiliki peluang lebih besar karena tidak harus bersaing dengan para peneliti senior.

Terkait Uang Kuliah Tunggal (UKT) Nofrizal bersikap tegas tidak akan memakainya. Selama kepemimpinannya sebagai Wakil Dekan I, jebolan S2 Institut Pertanian Bogor itu menolak tegas kenaikan tarif UKT di FPK.

“Kebanyakan (orang) Indonesia itu negara miskin penduduknya. Lebih banyak yang miskin, anak tukang sawit, anak tukang cari brondolan. Mereka nggak minta banyak-banyak, cukup pendidikan saja, untuk perubahan nasib mereka,” ujarnya.

Selain itu dia mendorong pemberian beasiswa penuh bagi Warga Negara Asing untuk internasionalisasi. Ia mencontohkan pengalamannya studi di Jepang yang banyak mendapat beasiswa karena pemerintah Jepang paham pentingnya jejaring global.

“Saya ingin perubahan, bukan perubahan di tingkat fakultas, melainkan perubahan menyeluruh di lingkungan Unri. Tujuan utama universitas adalah penelitian, universitas ini tempat mencari kebenaran,” tutupnya.

Pewarta: Zakiah Nurul Fitri
Penyunting: Wahyu Prayuda