URC Gelar Sosialisasi Pilmapres 2025

URC Gelar Sosialisasi Pilmapres 2025/Dok. URC Unri

Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Riau (UKM URC) menggelar Sosialisasi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi atau Pilmapres. Dilaksanakan secara dalam jaringan via Zoom, Rabu(19/2). Kegiatan bertujuan untuk memperkenalkan serta memberikan arahan kepada peserta yang ingin mendaftar di Pilmapres 2025. Sebanyak 53 mahasiswa hadir, pun di dalamnya termasuk Pilmapres junior.

Pilmapres merupakan ajang adu prestasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Ajang ini terdiri dari kategori diploma dan kategori sarjana. Adapun empat kategori penilaiannya adalah Capaian Unggulan (50 persen), Gagasan Kreatif (30 persen), Bahasa Inggris (20 persen), dan Personal Branding (citra diri).

Penanggung Jawab Pilmapres Unri Siti Saidah berharapan agar Pilmapres kedepannya bisa lebih baik lagi. Sebab Unri sudah mencapai Mapres tingkat nasional pada tahun lalu. “Saya berharap agar mahasiswa baru juga berani mengikuti kompetisi ini,” ucapnya.

Mahasiswa Berprestasi Utama 2024 Ghefira Auliya Rabbani Anedin  menjelaskan secara rinci tentang aturan Pilmapres. Pembahasan dimulai dengan pengenalan Mapres dan penilaiannya. “Capaian unggulan tidak harus kompetisi,” ujar Ghea.

Kebanyakan mahasiswa selalu keliru saat pengumpulan capaian unggulan. Mereka sering kali mengira capaian unggulan harus berupa kejuaraan. Padahal kriteria capaian unggulan pada Pilmapres sangatlah beragam. Seperti kewirausahaan, pemberdayaan atau aksi kemanusiaan, pengakuan, karir organisasi, hasil karya, dan penghargaan.

“Juri lebih melirik mapres dengan capaian unggulan yang beragam,” lanjut Ghea. Dia menekankan Pilmapres membutuhkan proses yang panjang dan bertahap.

Kata Ghea, pendaftaran harus dilakukan oleh masing–masing fakultas,  jika ingin menjadi Mapres tingkat nasional. Dia menekankan agar persiapan dilakukan sejak lama. Terlebih untuk bagian penulisan gagasan kreatif yang memiliki bobot 30 persen. “Penulisan gagasan kreatif harus memiliki komunitas dan menggunakan prototype,” jelasnya.

Dia memberikan tips mengenai gagasan kreatif. Misalnya ditulis dengan singkat dan jelas. Jumlah halaman minimal 10  dan maksimal 20, pun sudah termasuk daftar pustaka. Selanjutnya, usahakan untuk menghindari  gagasan kreatif mengenai aplikasi atau web, kecuali memang bidang yang digeluti. Terakhir, ada barang jadi yang dapat divisualisasikan kepada orang lain.

Pada pembahasan mengenai presentasi bahasa inggris, kata Ghea, hanya selama tujuh menit.  Menurutnya sudah cukup untuk menampilkan 10 slide Power Point.

Salah satu peserta bertanya mengenai gagasan kreatif. “Apakah gagasan kreatif yang telah diperlombakan namun tidak mendapatkan juara dapat dipakai lagi untuk Pilmapres?”

Ghea menjawab hal itu boleh saja karena tidak mendapatkan hak cipta oleh penyelenggara lomba. Namun, Siti Saidah meluruskan hal tersebut. “Esai yang sudah diperlombakan lebih baik tidak dipakai lagi,” tegas Siti. 

Penulis: Amelia Kartika Dewi
Editor: Fitriana Anggraini