Universitas Riau (Unri) menggelar kuliah umum bertajuk Kebijakan Prioritas Pemerintah di Bidang Pangan.  Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia (Wamenko Pangan RI), Hanif Faisol Nurofiq jadi pembicara. Ia mengambil alih forum perkuliahan pasca absensinya Menko Pangan RI, Zulkifli Hasan. Kegiatan berlangsung di Student Center, Kampus Bina Widya pada Jumat, 30 April 2026.

Sekitar 1.157 mahasiswa Unri hadir dalam kuliah umum. Acara kemudian dibuka dengan Tari Rentak Bulian dan lantunan Indonesia Raya. Setelahnya, Rektor Unri, Sri Indarti memberikan kata sambutan. 

Ia menekankan isu pangan bukan sekadar soal produksi dan distribusi. “Pangan menyangkut masa depan bangsa, stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, hingga ketahanan nasional,” ucapnya.  

Hanif Faisol Nurofiq kemudian menyampaikan materi kuliah. Ia menjelaskan kondisi pangan melalui perspektif lingkungan hidup, khususnya di Provinsi Riau. Bumi lancang kuning ini memiliki lahan gambut terluas di Indonesia. Namun sekitar 4,5 juta hektar telah dialihfungsikan ke perkebunan sawit. Pun sekarang sudah banyak kanal yang membelah lahan gambut. Ini dapat berdampak pada manajemen air dan risiko kebakaran.

Menyoroti tantangan iklim, lulusan Kehutanan itu memaparkan adanya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang jauh lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Musim kemarau hingga curah hujan di Riau merupakan yang terendah dalam 30 tahun terakhir. Juga datangnya fenomena El Niño yang membuat potensi karhutla semakin tinggi.  

Tak sampai di sana, Hanif juga memaparkan kondisi neraca pangan Riau yang masih negatif. Kebutuhan pangan daerah ini masih bergantung pada pasokan dari provinsi tetangga. Pria kelahiran Bojonegoro itu juga mendorong pemanfaatan lahan sawit yang lebih optimal. “Pemanfaatan sawit bisa melalui integrasi sawit dengan sapi maupun sawit dengan jagung,” ujarnya. 

Ia menyayangkan kondisi Indonesia yang kaya secara agraris, namun masih menjadi negara pengimpor pangan. “Kita lalai. Hampir tiap tahun kita impor hanya untuk beras saja. Beras yang secara logika bisa kita tanam sendiri,” kata Hanif.

Untuk itu, ia menyoroti komitmen presiden yang memerintahkan swasembada pangan, minimal pada komoditas beras dan jagung. Presiden juga telah menetapkan harga patokan pemerintah untuk gabah kering dan jagung kering sebagai langkah nyata menuju swasembada.

Hanif mengajak mahasiswa pertanian untuk tidak hanya berfokus pada teori dan uji laboratorium. Tetapi juga turun ke lapangan dan menghadirkan inovasi nyata bagi ketahanan pangan.

Ia memaparkan sejumlah program pemerintah yang sedang berjalan. Di antaranya Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, dan program Makanan Bergizi Gratis. Hanif mengakui masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam pelaksanaannya. Namun menegaskan hal itu tidak menyurutkan semangat untuk terus membangun negara.

Di penghujung materinya, Hanif menyinggung persoalan pengelolaan sampah yang dinilainya masih belum ditangani secara serius. Ia meminta semua pihak untuk mulai memperhatikan pengelolaan sampah. Mulai dari diri sendiri dan hal yang paling sederhana. 

Pewarta: Radya Aghna Humaira
Penyunting: Jericho Carolla Sembiring