Di atas pesawat satu senja 3 November 2025. Saya ambil buku dari dalam tas berjudul ‘Matinya Seorang Penulis Besar’ karya non fiksi Mario Vargas Llosa, seorang novelis, penulis dan politikus asal Peru yang tinggal di Spanyol.
Saya melanjutkan membaca halaman 100, dua naskah berjudul Zaman Tukang Obat (1997) dan Peradaban Tontonan (2012). Dalam buku yang diterjemahin oleh Ronny Agustunis ini merupakan kumpulan 10 naskah pilihan berbentuk esai dan pidato Llosa: Nona dari Somerset (1983), Sastra itu Api (1967), Benarnya Kebohongan (1989), Menjenguk Karl Marx (1966), Matinya Penulis Besar (1994), Epitafuntuk Sebuah Perpustakaan (1997), Sastra dan Eksil (1968), Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi (2010).
Penyuka Buku dan Pustaka
Epitafuntuk Sebuah Perpustakaan (1997)
LLosa terbiasa bekerja di perpustakaan sejak kuliah,”di manapun saya berada saya mencoba melanjutkan praktik ini, sampai-sampai kenangan saya akan negara dan kota-kota sebagiannya ditentukan oleh gambaran dan anekdot-anekdot yang saya dapatkan tentang perpustakaanya.”
Ia mendatangi hampir semua perpustakaan besar dan bergengsi di dunia. Ruang Baca British Library di Jantung British Museum. “Dari semua perpustakaan saya punya kenangan manis di perpustakaan Ruang Baca ini,” kata Llosa.
Di gedung kuno San Marcos, suasananya pekat dan kolonial, dan buku-bukunya menebar debu tipis yang membuatmu bersin.
Perpustakaan Nasional di Jalan Abancay, para mahasiswa berisiknya luar biasa dan lebih ribut lagi penjaga yang menyuruh mereka diam dengan peluit melengkung.
Perpustakaan Klub Nasional, tempat saya bekerja, saya baca koleksi erotika lengkap Les Maitres de l’Amour oleh Guillaume Apollinaire.
Perpustakaan Nasional Madrid, yang menggigilkan pada akhir 1950-an, orang harus pakai mantel agar tidak pilek, saya ke sana tiap sore untuk membaca novel-novel kekesatriaan.
Ketidaknyamanan perpustakaan Paris mengalahkan semuanya: bila kau tidak sadar menggerakkan lengan, sikutmu akan mengenai rusuk sebelahmu.
Perpustakaan Harvard, harus mencari buku-bukumu sendiri dengan mengikuti jalur rumit yang ditunjukkan oleh komputer yang bertugas sebagai resepsionis.
Perpustakaan Princeton, saya mencuri-curi melihat buku yang sedang dibaca dan kebetulan bertemu kutipan mengenai kultus Dionisios di Yunani kuno yang membuat saya mengubah seluruhnya novel yang sedang saya garap dan menjajal menciptakan ulang mitos klasik Andes secara modern tentang kekuatan irasional dan ilahi.
Perpustakaan New York, yang paling efisien dari semuanya–tak perlu kartu pendaftaran, dan buku-buku yang kuminta dikeluarkan dalam hitungan menit–tetapi tempat duduknya juga yang paling keras, jadi mustahil bekerja di sana lebih dari sekian jam, kecuali bila bawa bantal untuk melindungi tulang sulbi dan tulang ekor.
Llosa mulai belajar membaca pada usia lima tahun di kelas Bruder Justiniano di Colegio de la Salle, Cochabamba, Bolivia. Hampir tujuh puluh tahun usianya, Llosa masih mengingat kenangannya saat membaca,”kata-kata dalam buku menjadi imaji-imaji, memperkaya hidup saya, mendobrak sekat-sekat ruang dan waktu dan memungkinkan saya berkelana bersama Kapten Nemo dua puluh ribu mil ke dasar laut, bertarung bersama d’Artagnan, Athos, Portos, dan Aramis melawan instrik-intrik yang mengancam Ratu pada zaman Richelieu yang culas, atau berjalan terseret-seret di bawah tanah Paris, berubah menjadi Jean Valjean, membopong badan lembam Marius di punggung,” kata Llosa.
Llosa membaca karya Flaubert, Faulkner, Marorell, Cervantes, Dickens, Balzac, Tolstoy, Conrad, Thomas Mann, Camus, Orwell, Malraux, Borges, Octavio Paz, Cortazar, Garcia Marquez, Fuentes, Cabrera Infante, Rulfo, Onetti, Carpentier, Edwards, Donoso, Cesar Vallejo dan lainnya. “Hiburan saya adalah membaca, membaca buku-buku bagus, berlindung dalam dunia di mana hidup itu penuh gelora, intens, satu petualangan disusul lainnya, di mana saya bisa kembali merasa bebas dan bahagia,” kata Llosa dalam Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi (2010).
Menghormati Perjuangan
LLosa menghormati, menghargai dan menggali perjuangan seseorang. Dia memberi tempat khusus dalam kehidupannya. Bahkan menurut saya, memberi inspirasi untuk merenung hebatnya perjuangan mereka.
Miss Margareth Elizabeth Trask (Nona dari Somerset, 1983) dari Somerset meninggal dan menyerahkan seluruh hartanya 400.000 poundsterling, sekitar 700.000 dolar untuk menggelar anugerah sastra tahunan bagi novelis di bawah umur 35 tahun. Karya yang menang harus “cerita romantis dan novel yang berciri tradisional bukan eksperimental”. Kabar itu menghias media. Apa yang membuat Trask memberikan semua uangnya? Menurut LLosa sesungguhnya surat wasiatnya adalah sebuah penghakiman tegas atas dunia menjijikkan tempatnya dilahirkan, yang ia upayakan dengan keras tidak ia hidupi.
Oquendo de Amat (Sastra itu Api, 1967), pemuda 30 tahun meninggal di pegunungan Castilla, di sebuah rumah sakit amal, penuh luapan amarah. Dia wariskan pada dunia selembar kaus berwarna serta cinco metros de poemas (lima meter puisi). Di Lima, Peru, pemuda ini udik kelaparan tinggal di kampung kumuh Mercado, dalam sebuah bilik tanpa penerangan. Nisannya terhapus akibat perang saudara Spanyol. Ia dilupakan. “Padahal, kompatriot saya ini seorang yang sungguh ajaib, penyair kata, arsitek imaji yang berani, pengarung mimpi yang berkilau, pencipta yang rinci dan keras kepala yang mempunyai kerja kepenulisannya sebagaimana mestinya: sebagai pengorbanan harian dan mati-matian,” tulis LLosa di malam dia dapat penghargaan di Venezuela dari Institut Budaya dan Seni Rupa Nasional “Romulo Gallaegos”.
Dari kehidupan penulis Oquendo de Amat, Llosa membentangkan kritikan atas kehidupan penulis serupa di Amerika Latin, yang harus, menurut LLosa jungkir balik, memisahkan kerjanya di mata pencaharian sehari-hari, membelah dirinya dalam ribuan kerja yang menyita waktu yang dibutuhkan untuk menulis dan seringkali bertentangan dengan keyakinan dan hati nuraninya.
Karl Max (Menjenguk Karl Marx, 1966), LLosa mendatangi jalan Dean Street yang tentu saja telah berubah. Dulu, jalanan ini, pada 1853 adalah “jalan paling murahan dan terparah di London”. Pada 1850 Mark dan keluarga tinggal di areal jalan ini dengan kemiskinan yang dia alami, dalam dua kamar tak nyaman. Enam tahun yang menakjubkan dan menyedihkan marx di Dean Street.
Menyedihkan: satu-satunya pangan yang bisa disantap keluarga Marx hanyalah roti dan kentang. Anak-anak terserang flu. Anak gadis termuda meninggal. Wabah kolera menyerang, yang lain pindah, Marx bertahan karena tidak punya uang. Sepatu anak-anak dan mantel Marx dijual. Anak lelakinya meninggal. “Aku telah mengalami segala jenis permusuhan, tapi kini, untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan,” tulis Marx kepada Enggels sahabatnya.
Menakjubkan: ia rampungkan esainya Perjuangan Kelas di Perancis, Bonaparte, catatan pertama untuk Kapital. Di sini, dalam enam tahun ia belajar bahasa, menyusun buku-buku, melahap seluruh rak perpustakaan, menulis ratusan artikel dan masih sempat mengarang cerita untuk anak-anaknya tentang sesosok karakter imajiner bernama Hans Rockle.
Di jalan ini menjadi tempat lahirnya perlawanan paling geram dan efektif terhadap borjuasi, ini menjadi tempat foya-foya bagi kaum borjuis. Di era Marx, seorang borjuis takkan pernah menginjakkan kaki di Dean Street.
“Mengapa tidak ada orang yang terpikir memasang plakat memperingati masa tinggal Marx di Dean street?” kata LLosa.
Hidup untuk menulis
Melawan Pemerintahan Otoriter
Khusus dua naskah terakhir yang saya baca, dalam Zaman Tukang Obat, berisi cerita Llosa hadir di untuk konferensi Jean Baudrillard di Institute of Countemporary Arts berupa toko buku. Sebelum konferensi dia melihat toko buku itu meski kecil. Ia terkejut karena toko buku itu telah mengalami revoluasi klasifikasi. Dan itu mengganggunya. Pikiran Jean Baudrillard di bandingkan dengan Foucault, Rolland Barthes dan Derrida. Llosa berpandangan perkembangan teknologi audiovisual dan revoluasi komunikasi telah menyapu habis kemampuan manusia untuk membedakan kebenaran dan kebohongan, sejarah dan fiksi, dan membuat kita, makhluk berkaki dua dengan daging dan tulang ini tersesat ke dalam labirin media zaman kita, menjadi hantu-hantu otomatis semata, potongan-potongan mesin yang dilucuti kemerdekaan dan pengetahuannya dan dikutuk untuk kedaluwarsa tanpa pern hidup.
Saya melanjutkan naskah terakhir Peradaban Tontotan. Peradaban tontonan adalah dunia di mana tempat teratas dalam skala nilainya diisi oleh hiburan, di mana bersenang-senang, lari dari kesuntukan, menjadi hasrat universal. Ini tentang hadirnya yang modernitas, menurut Llosa ruang kosong yang ditinggalkan oleh menghilangnya kritisisme telah diisi, secara tidak sadar, oleh iklan, membuat periklanan pada zaman kita ini bukan cuma sebagai komponen pembentuk kehidupan budaya, melainkan juga vektor penentunya. Iklan memberi pengaruh besar pada selera, kepekaan, imajinasi, dan kebiasaan-kebiasaan.
Salah satu peradaban tontotan dalam dunia politik. Menurut Llosa politik mengalami banalisasi seperti yang terjadi dalam sastra, film, dan seni rupa, yang artinya slogan iklan, klise, trivia, dan tren atau fesyen teranyar kini mengisi nyaris seluruh ruang yang dulu diisi dengan cita-cita program, gagasan, dan doktrin. Bila ingin tetap populer, politisi zaman ini wajib mencermati gestur dan tampilan, yang jauh lebih penting ketimbang nilai, keyakinan, dan prinsip yang mereka anut. Mengurusi kerut, kebotakan, uban, ukuran hidung, atau putihnya gigi serta pakaian mereka sama pentingnya, atau bahkan lebih penting, bagi politisi ketimbang menjelaskan kebijakan mereka saat terpilih.
Dia juga mengamati bahwa juga bukan kebetulan bila dulu para politisi yang sedang berkampanye ingin tampil difoto bersebelahan dengan ilmuwan dan dramawan terkemuka, sekarang ini mereka mencari dukungan dari para penyanyi rock, bintang film, serta pemain bola atau olahraga lainnya. Sosok-sosok ini telah menggantikan kaum intelektual sebagai pengarah kesadaran politik sektor-sektor kelas menengah dan masyarakat awam. Mereka memimpin pembacaan manifesto di panggung, dan tampil di televisi mengkhotbahkan apa yang baik dan buruk di bidang ekonomi, politik dan sosial.
Ini semua terjadi karena kebutuhan akan hiburan ini, motor penggerak padaban tempat kita hidup, bersumber dari keinginan kita untuk kabur dari kehampaan dan kegelisahan yang timbul dari kebebasan, dan juga kabur dari kewajiban untuk mengambil keputusan tentang apa yang perlu diperbuat dengan diri kita dan dunia sekitar kita, terutama yang penuh tantangan dan drama. “Ciri khas masyarakat kontemporer adalah memudarnya signifikansi kaum yang selama berabad-abad hingga relatif beberapa tahun lalu masih memainkan peran penting dalam kehidupan bangsa: kaum intelektual.”
Selain penulis, Llosa juga melawan kediktatoran di negara asalnya, Peru–dalam naskah ceramah Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi (2010)–bahkan menudingnya sebagai pengkhianat hingga nyaris kehilangan kewarganegaraannya karena selama masa kediktatoran, dia meminta negara-negara demokratis sedunia menghukum rezim tersebut dengan sanksi diplomatik dan ekonomi, seperti yang dia lawan dengan segala kediktatoran seperti PInochet, Fidel Castro, Taliban di Afghanistan, Imam di Iran, apartheid di Afrika Selatan, penguasa-penguasa berseragam di Burma. “Saya akan melakukannya lagi esok bila Peru sekali lagi menjadi korban kudeta yang menghabisi demokrasi kami yang masih rapuh. Ini bukan tindakan emosional yang gegabah dari seseorang yang sakit hati seperti ditulis beberapa pengulas, yang terbiasa menilai orang lain dari sudut pandang mereka sendiri yang kerdil.”
Llosa menegaskan sikapnya atas kediktatoran,”Ini tindakan yang segaris dengan keyakinan saya bahwa kediktatoran menghadirkan kedurjanaan absolut untuk sebuah negeri, sumber brutalitas dan korupsi serta luka-luka mendalam yang butuh waktu lama untuk menutup, meracuni masa depan bangsa, dan membentuk kebiasaan dan praktik-praktik mudarat yang bertahan selama sekian keturunan dan menghalangi rekonstruksi demokratis. Itu sebabnya kediktatoran harus diperangi tanpa ragu, dengan segala cara yang bisa kita pakai, termasuk sanksi ekonomi.”
Saya selesai membaca kumpulan naskah itu di atas pesawat. Di luar jendela gelap terlihat. Saya tutup lalu sejenak berpikir esai Llosa, lantas mengingat rezim saat ini yang dipimpin oleh Prabowo Subianto.
Buku itu saya baca kurang dari sepekan. Saya baca di rumah di malam hari, di kedai kopi di pagi atau siang hari, di dalam mobil saat menunggu Malika pulang sekolah, dan selesai di atas pesawat.
Saya mengambil headset lalu mendengar musik pop Indonesia. Sedang asik mendengar musik, pesawat landing. Pesawat belum berhenti, Pak Yopi menunjukkan berita yang membuat saya tersentak; KPK OTT Gubernur Riau!
Akhirnya, korupsi tak mengenal pemerintahan otoriter maupun koruptor. Yang dilawan LLosa di negara otoriter, juga dilawan oleh negara demokrasi.
Penulis: Made Ali, S.H

