As Long As Lemon Trees Grow: Kisah Belas Kasih di Tengah Kepedihan.

As Long As Lemon Trees Grow: Kisah Belas Kasih di Tengah Kepedihan.

“Ketika aku mati, akan ku sampaikan semuanya pada Tuhan.”

 Aku peringatkan, jangan mendekati bawang ketika membaca buku ini. Karena sang penulis telah mengupas bawang ke dalamnya, siapkan tisu di sekitar dirimu.

Perang mengajarkan apa arti kematian dan kematian merupakan guru terbaik. Akibat Perang Suriah, Salama kehilangan segalanya termasuk dirinya. Bahkan gemerlap pada kedua matanya.

Sudah 14 tahun Suriah mengalami konflik bersenjata tiada akhir. Konflik yang berkepanjangan telah menjadikan Suriah bukan lagi tempat bagi penduduknya untuk pulang. Melainkan penjara yang menahan kaki mereka untuk berlari menuju pelabuhan, mengarungi Eropa.

Jika dihadapkan dengan pilihan menjatuhkan harga diri dengan berkhianat pada negaramu untuk menyelamatkan diri secara realistis, atau memperjuangkan kemerdekaan dan melihat satu persatu mayat dimakamkan dengan proses yang tidak etis. Potongan tubuh, hingga mayat anak kecil yang tidak berdosa. 

Jika harus melarikan diri dan menyusup seolah Suriah bukan bagian dari darah yang mengalir di jati diri, atau memasukkan tangan ke dalam tubuh korban perang, melakukan operasi tanpa bius dan mendengarkan teriakan setiap hari. Sepotong roti dibagi dua, sampai menyaksikan setengah penduduk menderita kekurangan gizi, jalan mana yang kamu pilih? Idealis atau realistis?

Salama, seorang Apoteker yang seharusnya berkutat dengan obat kini terpaksa menjelma menjadi Dokter di daerah Homs. Melakukan banyak pembedahan, mengeluarkan peluru dari tubuh tanpa bius. Setelah Ayah dan Kakaknya bernama Hamza ditangkap tentara, Salama menjaga kakak ipar sekaligus sahabatnya, Layla yang sedang mengandung. Salama berada diambang hidup dan kematian.

Salama bahkan kehilangan dirinya sendiri. Dia mulai mengalami gangguan kejiwaan yang dia beri nama Khawf. Khawf terus membujuk Salama untuk pergi dari Homs, dari Suriah, rumahnya, tanah leluhurnya. Menjaga agar Layla dan bayinya dapat tumbuh dewasa dan bergembira.

Namun moralitas menahan Salama. Tenaga medis semakin tercekik, satu persatu mulai tiada. Rasa bersalah pada bangsanya telah menggoyahkan Salama. Haruskah, dia pergi dari Suriah, ketika bangsanya sedang bergelimpangan darah dalam memperjuangkan kemerdekaan?

“Tepat di seberang sana, ada keamanan-bukan kebebasan. Aku meninggalkan kebebasan, dan bisa aku rasakan kesedihan bumi saat keluar dari mobil. Gulma-gulma yang lelah mencoba melingkari pergelangan kakiku, memohon untuk tetap tinggal. Mereka menggumamkan kisah tentang leluhurku. Mereka yang saat itu berdiri tepat di mana aku berdiri, mereka yang penemuan dan peradabannya meliputi seluruh dunia. Mereka yang darahnya mengalir di pembuluh darahku. Jejak kakiku tenggelam dalam, sangat dalam ke tanah tempat jejak kaki mereka telah lama terhapus. Mereka memohon kepadaku: Ini negaramu. Bumi ini milikmu.”

Di ambang pilihannya Salama bertemu Kenan, pemuda yang sangat bersemangat membela negaranya. Kenan merekam seluruh kejadian mengenaskan dengan kamera miliknya, satu-satunya bukti untuk memperlihatkan kepedihan yang dialami Suriah ke mata dunia. Jiwanya ada di sini, di Suriah.

“Ini semua berujung pada satu kebenaran, Salama. Negeri ini adalah tanah airku. Aku tidak punya tanah air lain, pergi dari sini sama dengan mati.”

Penduduk Suriah tidak tahu, kapan mereka masih bisa bertahan hidup. Mereka kerap memeluk erat orang-orang tercinta sebelum pergi keluar rumah. Walau hanya untuk membeli sepotong roti. Karena mungkin saja, malam nanti yang kembali bukan manusia tapi sosok mayat berbalut kain kafan putih. “Kita tidak harus berhenti hidup, hanya karena kita kemungkinan akan mati.”

Setiap buah lemon akan menghasilkan anak, dan pohon lemon tidak akan pernah mati. Ini mengingatkanku, bahwa selama pohon lemon tumbuh, harapan tidak akan pernah mati.

Pewarta: T. Natasha Shavia Azzahra
Penyunting: Wahyu Prayuda