Menolak Romantisme Perang Lewat Film All Quiet on the Western Front

Film ini merupakan adaptasi terbaru dari novel klasik anti-perang yang sudah lama dikenal, All Quiet on the Western Front karya Erich Maria Remarque. Dengan latar Perang Dunia I, Edward Berger selaku sutradara menghadirkan pendekatan yang lebih gelap dan realistis pada versi 2022 ketimbang adaptasi sebelumnya, fokus kuat pada penderitaan prajurit di garis depan.

Bercerita mengenai kisah Paul Bäumer, seorang remaja Jerman yang bersama teman-temannya memutuskan untuk mendaftarkan diri menjadi tentara. Mereka berangkat dengan semangat tinggi, dipenuhi keyakinan bahwa perang adalah bentuk pengabdian kepada negara sekaligus jalan menuju kehormatan. Dorongan propaganda dan tekanan lingkungan membuat keputusan itu terasa benar bahkan membanggakan.

Namun, begitu tiba di Front Barat, gambaran tentang perang yang mereka bayangkan langsung runtuh. Paul dan kawan-kawannya dihadapkan pada medan tempur yang brutal: parit-parit berlumpur, suara tembakan tanpa henti, kelaparan, dan ketakutan yang terus-menerus. Mereka dipaksa belajar bertahan hidup di tengah kondisi yang tidak manusiawi, di mana kematian bisa datang kapan saja dan tanpa alasan yang jelas.

Seiring waktu, satu per satu teman Paul gugur di medan perang. Setiap kehilangan tidak hanya mengurangi jumlah prajurit di sekitarnya, tetapi juga mengikis harapan dan idealisme yang dulu ia miliki. Paul mulai menyadari bahwa perang bukanlah soal keberanian atau kejayaan, melainkan tentang bertahan hidup dari hari ke hari. Hubungan antar prajurit menjadi satu-satunya pegangan di tengah kekacauan, meskipun itu pun sering berakhir dengan perpisahan yang tragis.

Film ini juga menampilkan kontras antara kehidupan di garis depan dan keputusan-keputusan yang dibuat jauh dari medan perang. Sementara para prajurit muda berjuang melawan rasa takut dan kelelahan, perang tetap berjalan tanpa memedulikan nasib individu.

Pada akhirnya, All Quiet on the Western Front menggambarkan perjalanan Paul dari seorang remaja penuh semangat menjadi sosok yang lelah dan kehilangan arah, sekaligus menunjukkan bagaimana perang perlahan menghancurkan kemanusiaan mereka yang terlibat di dalamnya.

Saya melihat All Quiet on the Western Front sebagai film yang berhasil menolak narasi perang sebagai sesuatu yang heroik. Tidak ada momen kemenangan yang terasa membanggakan, tidak ada sosok pahlawan yang diagungkan. Sejak awal hingga akhir, perang ditampilkan sebagai pengalaman yang kotor, melelahkan, dan penuh ketakutan. Film ini seolah ingin menegaskan bahwa perang bukan tempat untuk romantisasi, melainkan ruang di mana kemanusiaan perlahan terkikis.

Sebagai adaptasi dari novel anti-perang, film ini konsisten menyampaikan pesan bahwa para prajurit hanyalah korban dari keputusan politik yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Paul dan teman-temannya bukan digerakkan oleh keberanian sejati, melainkan oleh propaganda dan tekanan sosial. Ketika mereka sampai di medan perang, semua janji tentang kehormatan dan kejayaan langsung runtuh, digantikan oleh rasa lapar, trauma, dan kematian yang datang secara acak.

Menurut saya, kekuatan utama film ini justru terletak pada ketidaknyamanannya. Penonton tidak diberi ruang untuk menikmati perang, melainkan dipaksa menyaksikan dampaknya secara mentah. Dengan pendekatan ini, All Quiet on the Western Front berhasil menyampaikan kritik tajam terhadap glorifikasi perang dan mengajak penonton melihat konflik bersenjata sebagai tragedi kemanusiaan, bukan panggung kepahlawanan.

Penulis: Jericho Carolla Sembiring
Penyunting: Wahyu Prayuda