“Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan. Seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.” Tulis Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran. Inspirasi film Gie keluaran tahun 2005 yang mengambil nama tokoh tersebut.
Film merupakan wadah paling kuat untuk mengabadikan sejarah. Gie adalah salah satunya. Seorang tokoh aktivis mahasiswa, Soe Hok Gie yang berjuang melawan mulut busuk para politisi. Dia yang memiliki kejujuran dan idealisme tinggi, tak kenal kompromi dalam melawan tirani dan rezim tahun 1960-an. Gie menempuh pendidikan di Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia. Ketika menjadi seorang mahasiswa, Gie turun aktif dalam demonstrasi, bahkan sering mengadakan diskusi-diskusi film.
Gie hidup di tengah negara yang kacau, dengan kesadaran masyarakat yang rendah. Indonesia dari dulu hingga sekarang, di era siapapun tidak banyak perubahannya. Tikus-tikus berdasi yang duduk di kursi, buah hasil pajak para buruh minim gaji. Kala tikus-tikus berdasi sibuk membasmi lintah darat, mereka pun masih gemar melahap isi perut orang lain.
Soe Hok Gie kecil diperankan oleh Jonathan Mulia. Kemudian dilanjutkan oleh Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie dewasa. Ia memiliki karakter yang kuat, selalu berada di luar arus zaman, haus akan perubahan.
Bagi Gie, netral itu fana. Hanya ada dua pilihan: Manusia apatis dan manusia yang merdeka. “Menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.”
Pemikirannya yang selalu bertentangan dengan orang sekitar seringkali membuat dia kehilangan pertemanan bahkan percintaan. Dia adalah sosok yang penuh akan kejujuran, juga tegas akan prinsip-prinsipnya. Rasa cinta pada Indonesia, terutama sebagai mahasiswa membuat Gie selalu angkat bicara ketika ada yang dianggap cacat.
“Ketika Hitler mulai membuas, kelompok Inge School berkata ‘tidak’. Mereka [pemuda-pemuda Jerman ini] punya keberanian untuk berkata ‘tidak’. Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal. Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya [dalam arti romantik] penghukuman mereka. Tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran?”
Selain itu, kegemarannya pada sastra menuntun Gie mengkritik tajam perpolitikan di media massa. Menambah tantangan, menjadi bagian dari etnis Tionghoa kian membuatnya sulit mengutarakan pendapat. Banyak orang yang menentang dirinya.
Betapa kecewanya Gie ketika rezim yang dia lawan tiraninya malah melahirkan rezim baru yang lebih kejam. Kehilangan banyak sahabat dalam kejadian pembantaian komunis, Gie menyaksikan akhir tragis dari perjuangan mereka.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai beradaptasi dengan kepemimpinan orde baru. Korupsi tidak lagi mengejutkan saat itu, namun Gie tetap teguh pada prinsip-prinsip yang dia pegang. Keadilan dan kebenaran merupakan hal yang tidak dapat diganggu oleh kursi kotor pemangku kekuasaan, itulah prinsip kuat yang dia pegang, “Lebih baik saya diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
Puncaknya pada orde baru. Ketika masyarakat terbagi dua kubu, antara blok pro-komunis dan anti-komunis. Para aktivis diculik, dibuntuti, bahkan Gie pun tidak luput dari teror orde baru.
Film ini meringkaskan perjuangan seorang aktivis pada era orde lama dan orde baru dengan visual yang menarik atensi. Kutipan dari Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie mungkin cukup berat. Terlebih oleh seseorang yang masih awam dengan sastra.
Penulis menyadari kekurangan pada film ini terletak pada pemilihan aktor yang tidak sesuai dengan tokoh aslinya. Gie merupakan warga Tionghoa dengan nasionalisme yang sangat tinggi. Walaupun tidak banyak aspek etnis yang diperlihatkan selama film berlangsung. Namun, Gie merupakan tokoh nyata dan kisahnya bukanlah fiksi. Meletakkan Nicholas Saputra, seorang aktor berdarah Indonesia-Jerman jadi kurang tepat.
Di dalam kisahnya, Gie enggan mengganti nama. Menunjukkan penerimaan diri terhadap ras sekaligus tetap mencintai Indonesia sebagai tanah airnya.
Untungnya, peran Gie sewaktu remaja diperankan oleh sosok yang sesuai. Jonathan dan Nicholas sama-sama memiliki bakat akting yang luar biasa, tidak dapat dipungkiri, kekurangan yang penulis sampaikan dapat tertutupi oleh akting luar biasa Nicholas Saputra.
Penulis: T.Natasya Shavia Azzahra
Penyunting: M. Rizki Fadilah

