Film dokumenter Pesta Babi garapan Dandhi Laksono dan Cypri Dale hadir mengkritik kolonialisme modern. Mulai dari konflik agraria, hingga momok perampasan tanah adat di Papua. Film menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN), pembukaan 2,5 juta hektare hutan di Papua Selatan yang mengancam ruang hidup masyarakat adat. Cerita semakin pelik saat masyarakat adat berusaha mempertahankan hidup dan tanah kelahirannya.
“Hutan itu mama. Dari hutan kami ambil sagu, cari ikan, hidup kami ada di sana. Kalau hutan rusak, kami juga rusak,” Kalimat ini menjadi kritik telak logika pembangunan yang serakah. Kita sebagai manusia menggantungkan hidup pada alam, tetapi justru paling giat melukainya dengan mengatasnamakan kemajuan. Namun, untuk siapa kemajuan itu dijanjikan? Mereka yang paling setia menjaga tanah justru dibiarkan hidup dalam peminggiran, sementara keuntungan mengalir ke tangan yang jauh dari hutan.
Di balik kritik sosial-politiknya, film Pesta Babi juga menghadirkan sisi yang hangat. Yaitu hubungan masyarakat adat dengan tanah, ingatan, komunitas, hingga budaya yang mereka jaga. Dokumenter ini terasa sangat kuat dalam meramu isu besar menjadi kisah penuh emosi. Tidak hanya menyajikan data dan persoalan struktural, ia juga menampilkan kecemasan, kehilangan, dan keteguhan masyarakat yang senantiasa bertahan.
Secara visual, tampilan film ini tenang, tetapi mengandung makna yang menghantam kita sebagai penonton. Lanskap alam Papua, suara-suara warga, juga ritme penceritaan reflektif justru memberi ruang bagi sisi emosional untuk tumbuh. Ada kesedihan tetapi juga kehangatan yang muncul dari solidaritas dan relasi manusia dengan ruang hidupnya.
“Papua bukan tanah kosong,” kalimat ini bukan sekadar kutipan atau pekikan belaka, melainkan pernyataan yang seharusnya mengguncang kesadaran publik. Sebuah tamparan keras bagi kolonialisme modern yang terus bersembunyi di balik narasi pembangunan.
Baca juga: Menolak Romantisme Perang Lewat Film All Quiet on the Western Front
Film ini mengingatkan bahwa tanah yang dianggap kosong oleh pihak berkuasa sesungguhnya penuh dengan sejarah. Setiap lapisan kehidupan juga martabat harus dipertahankan, bukan digusur. Pada titik ini, film Pesta Babi tidak hanya berbicara tentang perampasan ruang hidup, tetapi juga membuka luka politik. Kemajuan kerap kali dibangun di atas pengorbanan yang tidak dipilih oleh rakyat.
Meski beberapa bagian terasa padat isu, film Pesta Babi berhasil menyampaikan kritik tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya. Tidak hanya menyoroti konflik, ia juga merekam bagaimana masyarakat adat bertahan di tengah tekanan besar. Film ini menjadi pengingat bahwa di balik isu tentang negara dan kekuasaan, selalu ada manusia, rumah, dan kehidupan yang diperjuangkan.
Penulis: Aisyah Sakinah Wardani
Penyunting: Muhammad Naufal Ihsan

