Tulisan ini telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh T. Natasya Shavia Azzahra, Kru Bahana Mahasiswa
Ratusan pengungsi Rohingya berkumpul secara damai di depan Pusat Layanan yang dikelola oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan para mitranya di Pekanbaru pada hari Senin (19/1/2026). Tujuan aksi tersebut adalah untuk menyampaikan keprihatinan mereka mengenai kesetaraan hak dan dukungan kemanusiaan.
Saat ini terdapat sekitar 1.400 pengungsi Rohingya yang tinggal di Pekanbaru, Provinsi Riau, Indonesia. Sebagian besar dari mereka tiba di Indonesia melalui Provinsi Aceh dengan perahu, setelah melewati perjalanan yang berbahaya dan mengancam jiwa. Mereka mencari keselamatan dan perlindungan setelah melarikan diri dari kamp pengungsi di Bangladesh dan dari Negara Bagian Arakan (Rakhine) Myanmar, di mana genosida, penganiayaan, dan kekerasan sistematis terhadap orang Rohingya masih berlangsung.
Saat ini, pengungsi Rohingya hanya menerima bantuan yang sangat mendasar, yang terbatas dan tidak memadai untuk bertahan hidup sehari-hari. Sejak awal Januari 2026, layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan lainnya telah dikurangi atau dihentikan sepenuhnya. Situasi ini sangat mengkhawatirkan dan telah menempatkan para pengungsi dalam posisi yang sangat sulit. Para pengungsi di Indonesia tidak diperbolehkan bekerja secara legal maupun informal, sehingga hampir mustahil bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa dukungan kemanusiaan yang memadai.
Selama pertemuan tersebut, para pengungsi menjelaskan bahwa meskipun mereka tinggal di negara yang sama, ada kebijakan berbeda yang diterapkan pada kelompok pengungsi yang berbeda. Beberapa pengungsi menerima akomodasi, layanan kesehatan yang layak, dan bantuan tunai bulanan secara teratur. Namun, kebijakan yang sama tidak berlaku untuk pengungsi Rohingya. Banyak pengungsi Rohingya hanya menerima bantuan tunai bulanan, yang telah dikurangi, dan layanan kesehatan yang sangat terbatas dan hanya diberikan kepada kasus-kasus rentan tertentu.
Situasi ini telah memaksa para pengungsi untuk bersuara dan memberi tahu dunia bahwa mereka secara sistematis ditolak aksesnya terhadap kebutuhan dasar mereka. Tunjangan tunai saat ini tidak cukup untuk menutupi biaya makanan, sewa, dan perawatan kesehatan yang terus meningkat. Banyak keluarga Rohingya tinggal di tempat penampungan darurat yang penuh sesak dan tidak memiliki sanitasi, privasi, dan keamanan yang layak. Pengungsi tidak diizinkan untuk bekerja, dan banyak anak menghadapi pendidikan yang terganggu atau terputus. Akibatnya, ada peningkatan risiko hilangnya generasi, bersamaan dengan masalah kesehatan mental yang meluas seperti trauma, stres, dan kecemasan.
Selama pertemuan itu, seorang perempuan Rohingya dengan emosional berbagi penderitaannya. Tangisannya memecah keheningan dan sangat menyentuh semua orang yang hadir. Dia berkata, “Jika Anda tidak mendukung kami secara memadai, bagaimana kami bisa memberi makan anak-anak kami ketika kami tidak memiliki hak hukum untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami?” Dia menambahkan bahwa mereka ingin hidup damai dan memberikan kehidupan yang bermartabat kepada anak-anak mereka, setelah kehilangan segalanya di tanah air mereka.
Kami adalah pengungsi yang menunggu kepulangan atau solusi jangka panjang lainnya di masa depan. Sambil menunggu, kami berusaha untuk bertahan hidup dengan damai dan penuh hormat di Indonesia.
Niat kami hanyalah untuk berbagi penderitaan kami akibat pemotongan dana baru-baru ini yang telah memengaruhi akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, perawatan kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal. Banyak keluarga—terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang sakit—berjuang dalam diam.
Kami tetap sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia karena telah menyelamatkan hidup kami dan menerima kami dengan penuh kemanusiaan.
English version
Hundreds of Rohingya refugees gathered peacefully in front of the Service Hub managed by the International Organization for Migration (IOM) and its partners in Pekanbaru on Monday (19/1/2026). The purpose of the gathering was to express their concerns regarding equal rights and humanitarian support.
There are about 1,400 Rohingya refugees currently living in Pekanbaru, Riau Province, Indonesia. Most of them arrived in Indonesia through Aceh Province by boat, after passing through dangerous and life-threatening journeys. They were seeking safety and protection after fleeing from refugee camps in Bangladesh and from Myanmar’s Arakan (Rakhine) State, where genocide, persecution, and systematic violence against Rohingya people are still ongoing.
At present, Rohingya refugees are only receiving very basic assistance, which is limited and inadequate for daily survival. Since the beginning of January 2026, healthcare services and other humanitarian assistance have been reduced or completely cut off. This situation is extremely alarming and has placed the refugees in a very difficult position. Refugees in Indonesia are not allowed to work legally or even informally, which makes it almost impossible for them to meet their daily needs without sufficient humanitarian support.
During the gathering, refugees explained that although they are living in the same country, there are different policies applied to different refugee groups. Some refugees receive accommodation, proper healthcare services, and regular monthly cash assistance. However, these same policies do not apply to Rohingya refugees. Many Rohingya refugees receive only monthly cash assistance, which has been reduced, and healthcare services that are very limited and provided only to certain vulnerable cases.
This situation has forced the refugees to raise their voices and let the world know that they are being systematically denied access to their most basic needs. The current cash allowance is not enough to cover the rising costs of food, rent, and healthcare. Many Rohingya families are living in overcrowded and makeshift shelters that lack proper sanitation, privacy, and safety. Refugees are not allowed to work, and many children face disrupted or discontinued education. As a result, there is a growing risk of a lost generation, along with widespread mental health problems such as trauma, stress, and anxiety.
During the gathering, a Rohingya woman emotionally shared her pain. Her cries broke the silence and deeply affected everyone present. She said, “If you do not support us adequately, how can we feed our children when we have no legal rights to meet our daily needs?” She added that they want to live in peace and give their children a dignified life, after having already lost everything in their homeland.
We are refugees waiting for return or other future durable solutions. While waiting, we are trying to survive peacefully and respectfully in Indonesia.
Our intention was simply to share our suffering due to recent funding cuts that have affected access to basic needs such as food, healthcare, education, and shelter. Many families—especially children, elderly people, and those who are sick—are struggling silently.
We remain deeply grateful to the Government of Indonesia and the Indonesian people for saving our lives and hosting us with humanity.
Penulis: Abdu Rahman, Penulis dan Aktivis Rohingya
*Rubrik opini, penulis bertanggung jawab atas keseluruhan isi. Bahana Mahasiswa dibebaskan atas tuntutan apapun. Silakan kirim opini Anda ke email bahanaur@gmail.com

