Dekat yang Diabaikan, Jauh yang Diperjuangkan

Aksi yang dilakukan BEM UNRI hari ini (16/4) sebenarnya patut diapresiasi. Mahasiswa masih mau turun ke jalan, masih mau bersuara. Tapi di saat yang sama, ada hal yang cukup mengganjal.

Kenapa isu yang diangkat justru jauh dari Riau sendiri?

BEM UNRI memilih menyuarakan kasus nasional, mulai dari kekerasan terhadap aktivis hingga tuntutan reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia, tak lupa pula mengenai program MBG. Isu-isu ini memang penting. Tidak ada yang membantah itu.

Tapi di waktu yang hampir bersamaan, Riau juga sedang tidak baik-baik saja. Kendati saya tak menapik, teman-teman turut membahas pendidikan dan Kesehatan serta HTI, DBH. Berbicara mengenai DBH, saya cukup menyayangkan kenapa permasalahan tersebut tidak menyentuh secara langsung kepada masyarakat Riau sendiri, tempat kampus kita berada.

Di Panipahan, Rokan Hilir, beberapa hari lalu terjadi kerusuhan yang berujung pembakaran rumah dan pencopotan aparat. Jika dibandingkan dengan permasalahan yang digaungkan oleh BEM tadi sore memang tidak ada apa-apanya, kalah pamor. Namun itu masalah nyata tentang keamanan warga, konflik sosial, bahkan dugaan persoalan narkoba. Itu terjadi di daerah kita sendiri. Dekat. Terasa. Tapi nyaris tidak terdengar menjadi perhatian utama.

Belum lagi soal anggaran daerah. Saat kondisi fiskal Riau sedang defisit, pemerintah provinsi justru menghibahkan dana dalam jumlah besar ke instansi vertikal dengan total 112,8 Miliar (terbagi untuk RS Bhayangkara, RS Tentara dan rumah dinas kejati). Ini isu yang jelas, konkret, dan dampaknya langsung ke masyarakat. Tapi lagi-lagi, tidak terlihat menjadi fokus.

Di sini letak yang disayangkan.

Mahasiswa Unri sebenarnya punya kekuatan lebih besar untuk menekan isu di Riau. Mereka dekat dengan masalahnya, tahu konteksnya, dan punya peluang mendorong perubahan langsung. Tapi kalau yang diangkat justru isu nasional yang jauh dari jangkauan, gerakan itu jadi terasa seperti hanya ikut arus.

Ramai, tapi belum tentu berdampak.

Bukan berarti isu nasional tidak penting. Tapi bukankah lebih masuk akal jika persoalan di rumah sendiri diselesaikan dulu? Atau setidaknya dijadikan prioritas?

Karena pada akhirnya, masyarakat akan lebih merasakan kehadiran mahasiswa ketika mereka bicara tentang apa yang benar-benar terjadi di sekitarnya, bukan hanya tentang apa yang ramai dibicarakan di tingkat nasional.

Harapannya, ke depan BEM UNRI bisa lebih peka melihat mana yang paling mendesak untuk diperjuangkan. Bukan hanya yang besar, tapi juga yang dekat.

Penulis: Afrila Yobi, Mahasiswa

*Rubrik opini, penulis bertanggung jawab atas keseluruhan isi. Bahana Mahasiswa dibebaskan atas tuntutan apapun. Silakan kirim opini Anda ke email bahanaur@gmail.com