Organisasi mahasiswa atau yang disebut ormawa sebenarnya memiliki peran penting bagi mahasiswa sebagai wadah untuk pengembangan diri mahasiswa. Melalui organisasi, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dalam melakukan interaksi, bekerjasama, dan menyelesaikan masalah. Selain itu organisasi juga dapat melatih jiwa kepemimpinan, komunikasi, serta tanggung jawab yang berguna untuk dunia kerja nantinya.
Tetapi, apa jadinya kalau mahasiswa kurang minat dalam mengikuti ormawa? Sekarang mulai terlihat adanya penurunan minat mahasiswa untuk bergabung dan aktif dalam organisasi kampus. Banyak ormawa kesulitan mencari anggota ataupun kader baru untuk melanjutkan kegiatan organisasi. Karena hal ini juga banyak Ormawa yang tidak berjalan maksimal dikarenakan kekurangan anggota ataupun pengurus.
Kenapa ya, mahasiswa sekarang nggak mau buat bergabung ke Ormawa? Menurutku alasan paling klasik, mereka ingin fokus dengan prestasi akademik. Menurut mereka jika mengikuti Ormawa kuliah akan menjadi terganggu sehingga menyebabkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mereka menurun. Padatnya kegiatan organisasi membuat mahasiswa kesulitan membagi waktu dan memutuskan untuk fokus pada satu kegiatan saja.
Sebenarnya iya sih, dengan tugas tugas perkuliahan yang seabrek itu dan padatnya kegiatan organisasi wajar kalau mahasiswa merasa khawatir. Aku juga seorang yang mengikuti organisasi, bahkan yang ku ikuti bukan satu organisasi. Tapi dari situ harusnya kita sebagai mahasiswa bisa belajar manajemen waktu sih, ya. Walaupun nggak langsung menjadikan aku sebagai seseorang yang disiplin tetapi aku bisa belajar perlahan lahan. Tapi IPK ku alhamdulillah aman guys, hehehe.
Selain itu, kenapa mahasiswa nggak minat gabung organisasi bisa jadi pada organisasi tersebut nggak ada divisi yang diinginkan. Atau kalaupun ada, organisasinya kurang merangkul. Misalnya mereka yang udah join nih, merasa nggak ada kerjaan. Cuma sekedar mampangin nama di Surat Keputusan (SK). Terdengar aneh, tapi percayalah yang kayak gini tuh ada.
Nggak itu aja, mungkin adanya budaya organisasi pada ormawa tersebut yang tidak sesuai atau tidak relavan dengan zaman. Misalnya masih ada budaya senioritas yang berkedok kekeluargaan membuat anggota baru merasa tertekan. Dan hal ini menjadi rahasia umum dikalangan mahasiswa sehingga mahasiswa ogah untuk bergabung. Ya mikir aja lah, siapa yang mau join organisasi senioritas di zaman sekarang?
Ada campur tangan demisioner dan alumni dalam organisasi juga bisa jadi pemicu mahasiswa nggak minat gabung organisasi. Dan hal ini jadi rahasia umum dikalangan para mahasiswa. Lihat aja konten dari akun Instagram @alfarizisahrul yang Sastra Mesin, kek apa-apa alumninya ikut campur.
Sebenarnya menurutku nggak masalah karena gimana pun kita butuh pendapat atau saran dari orang yang sudah lebih dulu menjalankan organisasi dan mereka lebih berpengalaman dan sayangnya nggak semua yang kayak gini. Ada kok yang ngurus sampai ke internal sampai program kerja (proker) pun mereka yang ngatur, jujur itu berlebihan banget sih. Zaman mereka dengan zaman kita itu berbeda, kadang ada nih mereka yang ngotot banget pengen proker A harus jalan tapi sebenarnya udah nggak relavan lagi. Kataku kalau ada yang kayak gitu sadar deh. #izin
Dan ada juga mahasiswa yang berpikiran gini, “ikut organisasi nggak ada manfaatnya, mending ikut pelatihan kerja.” Sebenarnya ini benar tapi nggak sepenuhnya benar. Keduanya berperan penting kok, kalau organisasi itu melatih soft skill kadang ini nggak selalu ada di pelatihan kerja, soft skill seperti manajemen waktu, komunikasi yang baik, leadership, kerja sama tim dan problem solving. Nah, kalau pelatihan kerja berfokus pada hard skill dan pengalam langsung sebelum terjun kedunia kerja misalnya kayak ikut magang, ikut pelatihan Microsoft Excel dan lain lain. Akan lebih bagus kalau kalian ikut keduanya.
Kalau dipikir pikir dunia kerja nggak Cuma butuh orang pintar secara teknis tapi juga yng bisa beradaptasi, bisa kerja sama dan punya inisiatif, disinilah peran organisasi dibutuhkan. Ya nggak?
Dan pernah nggak sih kalian denger kalimat kayak gini, “ngapain ikut organisasi, dibayar enggak duit kita yang habis, buat capek aja.” Bingung kan jawabnya gimana? Menurutku, sebelum kita bicara dibayar atau nggak, lihat dulu sih kemampuan kalian ada di level mana. Logika aja sih, kalian mau dibayar tapi kualitasnya masih nol. Yang ada bukannya dibayar tapi malah ditinggal bahkan nggak dilirik. Ibarat kita belum punya nilai jual tapi mau harga tinggi. Yang bener aja. Jadi organisasi tu penting buat ningkatin kualitas kita, nanti kalau skill sudah kebentuk, pengalaman udah ada, baru kita bisa bicara soal bayaran. Soal capek, yang namanya belajar pasti capek, percaya deh rasa capek itu membuahkan hasil kok, ya nggak?
Ada lagi nih yang paling krusial, yang paling disepelekan juga oleh anggota anggota ormawa. Yaitu budaya ngaret. Sebenarnya ini bukan soal waktu tapi tanggung jawab mahasiswa sebagai anggota. Misalnya aja nih kalian rapat mulai jam delapan pagi realitanya malah jam sepuluh pagi. Orang orang udah capek nunggu lho, sehingga hal ini membuat orang malas untuk bergabung. Nah hal ini bisa jadi pemicu mahasiswa ogah banget buat join ormawa, karena menurut mereka hal yang seperti buang buang waktu. Kayak orang jadi mikir “tau gini aku bisa tidur 2 jam di kost.” Kurang kurangi deh budaya buruknya biar bisa menarik anggota baru.
Tapi di balik itu semua, bisa jadi ada mahasiswa yang emang minatnya kegiatan diluar kampus misalnya ada yang kerja paruh waktu, ada yang buka bisnis sendiri, atau ada gabung organisasi eksternal yang dirasa lebih cocok dengan passionnya sehingga nggak ada waktu atau buat bergabung dengan ormawa. Kayak gini jujur keren sih menurutku.
Oh iya, aku pernah denger cerita kalau di suatu organisasi banyak drama katanya. Ya kalau kata ku ormawa perlu adain evaluasi sih kalau emang ada “drama”. Tapi guys, perlu kalian tau sebenarnya bagus tau kalau tiap organisasi tu ada dramanya, drama disini maksudnya konflik ya. Konflik biasanya muncul karena adanya perbedaan pendapat, sudut pandang, dan kepentingan, dan hal ini wajar banget guys.
Kenapa aku bilang bagus, karena nggak selamanya konflik ini berdampak negatif. Ketika terjadi konflik organisasi akan muncul inovasi baru, ketika adanya pendapat dan sudut pandang, organisasi dapat menemukan solusi yang lebih kreatif, atau bisa disebut konflik bisa membuat anggotanya memiliki pemikiran yang luas.
Nggak cuma itu, adanya konflik dalam organisasi dapat membuat proses pengambilan keputusan jadi lebih matang dan tidak terburu buru. Sehingga hasilnya menjadi objektif dan berkualitas. Selain itu konflik ini dapat memperbaiki komunikasi antar anggota, mengurangi misscom agar tidak terjadi kesalahpahaman, nah karena adanya peningkatan komunikasi, hubungan antar anggota jadi lebih kuat.
Ada lagi nih, konflik bisa menemukan masalah yang sebenarnya kita nggak sadar atau emang sengaja diabaikan. Lewat konflik inilah hal yang terlupakan itu muncul sehingga bisa diperbaiki. Konflik dalam organisasi juga dapat mengendalikan emosi dan bernegosiasi mahasiswa dalam menghadapi perbedaan, dan yang pasti dapat memperbaiki kesalahan kesalahan yang pernah terjadi agar organisasi dapat berjalan lebih baik kedepannya.
Sekian opini ku tentang ini, disini aku nggak bermaksud menyudutkan mahasiswa yang nggak ikut organisasi kok, aku memahami keputusan kalian. Dan aku nggak ada maksud menyinggung organisasi/ pihak manapun ini murni pendapatku di sini kita sama sama belajar ya guys. Mohon maaf jika ada kurangnya soalnya gue manusia biasa bukan nabi boy!!!
Penulis: Farziq Surya, Mahasiswa Administrasi Bisnis
*Rubrik opini, penulis bertanggung jawab atas keseluruhan isi. Bahana Mahasiswa dibebaskan atas tuntutan apapun. Silakan kirim opini Anda ke email bahanaur@gmail.com

