Label IGRS di Steam Bermasalah, Komdigi: Ada Manipulasi dari Steam

Label IGRS di Steam Bermasalah, Komdigi: Ada Manipulasi dari Steam/Doc. Jericho Carolla Sembiring

Pada Senin 6 April 2026, para pemain gim Indonesia dikejutkan dengan label International Game Rating System (IGRS) 3+. Artinya aman untuk anak usia tiga tahun pada sejumlah gim dengan konten pornografi di Steam. Sementara gim A space for the Unbound buatan Toge Production yang dapat pujian di festival gim internasional justru diberi label 18+. Sebab ada adegan tiga detik karakter sedang merokok.

Beredar pula tangkapan layar dari X, Game Persona 5 Royal, salah satu judul Japanese Role-Playing Game (JRPG) paling dipuji dalam satu dekade. Permainan ini dinyatakan tak layak edar di Indonesia atau Not Fit for Distribution. 

Senasib dengan gim Clair Obscur: Expedition 33 yang digadang-gadang jadi kandidat Game of the Year 2025. Sebaliknya, PUBG Mobile yang memuat kekerasan malah berlabel 3+. Pun banyak toko gim dengan konten pornografi dijual bebas bagi semua usia.

Pernyataan Komdigi

Staf Khusus Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Rudi Valinka buka suara. Melalui unggahan X, menyatakan bahwa tindakan Steam meresahkan publik dan berpotensi melanggar hukum. Sehingga Komdigi merasa perlu mengambil tindakan.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, Sonny Hendra Sudaryana menjelaskan sistem yang berjalan di Steam berbasis pengakuan sendiri (self-declare) pada Selasa, 7 April 2026. Dari pengembang tanpa melewati verifikasi resmi IGRS. 

Jadi bukan Steam yang memanipulasi tapi belum ada kesepakatan antara Steam dan IGRS. Selaras dengan pernyataan perusahaan Valve Corporation, bahwa ada miskomunikasi yang menyebabkan rating salah tampil.

Inti masalah bukan hanya soal kesalahan teknis tapi logika sistem yang dari awal rapuh. Komdigi mengklaim IGRS lebih baik dari sistem internasional. Sebab ada tim verifikasi manual yang melakukan gim percobaan (testing). 

Namun verifikasi manual itu jelas tidak terjadi di Steam entah karena tidak ada mekanismenya, atau karena IGRS dan Steam belum pernah benar-benar terhubung. Hasilnya gim visual berkonten seksual lolos dengan rating 3+, sementara permainan karya anak bangsa justru terjegal.

Lalu IGRS Ini untuk Apa?

IGRS menggunakan mekanisme survei otomatis yang serupa dengan International Age Rating Coalition (IARC). Sistem yang digunakan pada perusahaan besar seperti Google Play, PlayStation Store, dan Microsoft Store. Komunitas gim dan pengembang lokal sosial media juga mempertanyakan sistem yang belum rampung, padahal telah mengaku sebagai “pelopor ASEAN” dalam penerapan klasifikasinya. 

Asosiasi Game Indonesia (AGI) angkat bicara, menegaskan rating seharusnya berfungsi sebagai panduan bukan pembatas. Sistem rating seperti Pan European Game Information (PEGI) di Eropa atau Entertainment Software Rating Board (ESRB) di Amerika Utara dibangun lewat koordinasi panjang. Antara regulator, pengembang, dan platform. Keduanya punya mekanisme yang jelas, transparan, dan terintegrasi. Berbanding terbalik dengan IGRS. Meski secara konsep serupa tapi tanpa persiapan matang.

Sistem Rating yang Terlalu Umum

Cara IGRS menerapkan kategori konten juga bermasalah. Menggunakan parameter yang luas seperti, rokok, alkohol, narkotika, kekerasan, darah, bahasa, pornografi, perjudian, horor, dan interaksi daring. Indikator tersebut tidak efektif dalam penerapan. 

Apakah adegan menghisap rokok layak ditempatkan dalam kategori yang sama dengan gim yang secara eksplisit menampilkan kekerasan grafis? Di sinilah letak kelemahan kategorisasi yang general. Setiap indikator memicu lompatan langsung ke rating tertinggi, tanpa mempertimbangkan durasi, intensitas, atau relevansinya terhadap narasi.

Berbeda dengan PEGI yang memiliki tolak ukur lebih spesifik. IGRS malah memukul rata semua konten. Akibatnya tak hanya gim asing yang terdampak. Game lokal seperti A Space for the Unbound yang membahas kesehatan mental remaja, mendapat hukuman dari sistem rating Indonesia.

Steam: Kesalahan Teknis dan Permintaan Maaf

Disadur dari laman resmi resmi Steam, Valve memberikan klarifikasi. Akui telah berkomunikasi dengan Komdigi. Namun terjadi bug teknis dan miskomunikasi yang menyebabkan rating belum lengkap dan tak akurat terpasang sementara di Steam antara 2 hingga 5 April 2026.

Valve mengatakan label tersebut diturunkan untuk menghindari kebingungan lebih lanjut. Kemudian menambahkan masih ada tahapan sebelum sistem rating IGRS yang telah disetujui bisa ditampilkan kepada pengguna Indonesia.

Komdigi membenarkan bahwa Valve mengirim email permintaan maaf karena terjadi miskomunikasi.  Seharusnya data rating lebih dulu diserahkan ke Komdigi sebelum ditayangkan. Kedua belah pihak kemudian mengadakan Zoom guna bahas langkah selanjutnya.

Kini Steam kembali ke tampilan rating internasional PEGI dan ESRB sembari menunggu penyelarasan sistem IGRS. Jutaan pemain gim Indonesia merasa permintaan maaf tidak cukup. Kepercayaan publik terhadap IGRS yang bahkan baru diperkenalkan sudah lemah.

Niat Baik Tak Cukup

Tidak ada yang salah dari ide dasar IGRS. Sistem klasifikasi konten gim yang sensitif berdasarkan nilai budaya adalah langkah yang bagus. Orang tua membutuhkan panduan yang mempertimbangkan nilai-nilai lokal. Namun niat baik tidak cukup. 

Ketika sebuah sistem rating yang menyebutkan “pelopor ASEAN”. Ekspektasinya ialah kesiapan teknis, integrasi yang telah diuji, dan mekanisme verifikasi yang sesuai. Alih-alih demikian, sistem malah berjalan tidak matang, label dipasang tanpa verifikasi, dan kesalahan baru terungkap ketika warganet menemukannya.

Jika pemerintah serius menjadikan IGRS sebagai perlindungan digital yang berkelanjutan, maka langkah selanjutnya bukan sekadar menyepakati panduan dengan Steam. Namun meninjau ulang kategorisasi indikator yang kaku, membangun kanal komunikasi dengan para pengembang dan platform global. 

Serta yang paling penting tidak tergesa mengklaim prestasi sebelum sistem benar-benar siap diuji. Sebab dalam ruang digital yang bergerak cepat, kepercayaan publik jauh lebih mudah hilang daripada dibangun. Sekali hilang, tiada permintaan maaf yang bisa memulihkannya.

Pewarta: Jericho Carolla Sembiring
Penyunting: Mutiara Ananda Rizqi