Wisuda Unri Mei 2026: Dari Ijazah Digital Hingga Nihilnya Konsumsi

Universitas Riau (Unri) mengukuhkan 1.983 wisudawan periode Mei 2026. Kegiatan berlangsung di Student Center pada Selasa hingga Rabu, 19 – 20 Mei 2026. Diselenggarakan di Kampus Bina Widya, pengesahan ini membawa sejumlah pembaruan kebijakan akademik. Pemutakhiran yang dilakukan Unri dapat dilihat dari perubahan format ijazah. Awalnya masih cetak konvensional, kini beralih ke ijazah digital atau e-ijazah. 

Kebijakan itu mendapatkan respons positif salah satu wisudawan. Lulusan Program Studi Sistem Informasi angkatan 2021, Kristi Anita Siregar menilai ijazah digital lebih aman. “Kalau cetak misalnya hilang ya bahaya juga. Kalau digital kan setidaknya bisa kita akses sendiri,” tuturnya.

Namun, tidak semua lulusan langsung menerima dokumen digital tersebut. Penerapan e-ijazah baru difokuskan pada mahasiswa lulusan semester genap. Bagi mahasiswa lulus semester ganjil, mereka tetap dapat melihat salinan e-ijazah melalui portal resmi kampus.

Baca Juga Unri Kukuhkan 3.057 Wisudawan Periode Oktober

Kepala Bagian Akademik Unri, Afrizal menjelaskan transisi tersebut. Ia menyebut mahasiswa yang lulus pada Desember akhir tahun lalu masih menerima dokumen fisik.

“Istilahnya ketika SKL [Surat Keterangan Lulus] mereka sudah di Januari 2026, [dapat digital]. Tetapi ketika lulusnya di Desember, itu masih cetak ijazah manual,” ucap Afrizal.

Meski terdapat transisi metode pencetakan, Afrizal memastikan legalitas kedua format ijazah tersebut setara. Langkah ini dinilai sebagai wujud adaptasi kampus mengikuti perkembangan era transformasi digital.

Tanggapan senada disampaikan lulusan Program Studi Ilmu Ekonomi angkatan 2021, Luluk Reza Wicaksono. Ia menyebut format digital menggunakan barcode atau batang kode sangat praktis dan efisien.

Menghadapi lonjakan jumlah lulusan mencapai rata-rata 8.000 mahasiswa per tahun, pihak akademik turut melakukan penyesuaian. Afrizal menjelaskan frekuensi pelaksanaan wisuda kini ditambah menjadi empat kali setahun.

Di balik kelancaran acara, keluhan terkait konsumsi mencuat dari wisudawan. Mereka mengeluhkan panitia hanya menyediakan sebotol air mineral.

“Acara wisuda tadi lancar, cuman tidak ada konsumsi. Sayangnya di situ, cuman dikasih air putih,” kata Luluk. Hal serupa diungkapkan Kristi yang mengaku terpaksa menahan lapar akibat terburu-buru di pagi hari tanpa sempat sarapan.

Merespons keluhan tersebut, Afrizal memberikan klarifikasi. Kebijakan peniadaan konsumsi berkaitan dengan penghapusan pungutan biaya tambahan wisuda. 

“Kalau dulu kenapa dapat konsumsi, karena ada biaya tambahan. Sekarang cukup dari UKT [Uang Kuliah Tunggal] saja tak ada tambahan lagi. Semuanya sudah di sana [UKT],” terangnya.

Sebagai evaluasi pelaksanaan, panitia turut menyoroti pentingnya kedisiplinan wisudawan. Afrizal mewakili panitia menyampaikan harapan agar peserta lebih tertib mengikuti seluruh rangkaian acara, termasuk tingkat kehadiran saat gladi resik.

“Terkadang kita berharap ketika memang ada gladi resik mereka harus datang. Informasi yang disampaikan MC [Master of Ceremony] harus dituruti, ke depannya kegiatan wisuda dapat lebih sakral,” pungkas Afrizal.

Pewarta: Meisya Kafiia Syahrani
Penyunting: Habibie