Dari delapan nama yang resmi mendaftar, Prof. Dr. Elfizar, S.Si., M.Kom menjadi pendaftar kelima Pemilihan Rektor Universitas Riau (Unri) periode 2026–2030. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini bawa gagasan pembenahan tata kelola kampus. Langkah tersebut bertujuan agar terciptanya pelayanan prima berbasis teknologi informasi.
Elfizar menjelaskan alasan pencalonannya dilandasi dorongan moral sebagai alumni sekaligus dosen yang tumbuh di lingkungan Unri. “Ketika syarat itu bisa saya penuhi, kemudian saya memahami kondisi Unri saat ini beserta langkah yang perlu dilakukan untuk membenahinya. Maka ini jadi motivasi terkuat saya untuk maju,” ujar Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FMIPA itu saat diwawancarai pada Senin, 18 Mei 2026.
Elfizar merupakan alumni S1 Matematika FMIPA Unri angkatan 1992. Ia menyelesaikan studi sarjana pada 1996 dengan predikat cum laude. Dirinya kemudian melanjutkan pendidikan Magister Ilmu Komputer di Universitas Gadjah Mada serta sukses meraih gelar Doktor Bidang Computer Science di University of Malaya, Malaysia.
Sebelum menduduki kursi Wakil Dekan, ia sempat bekerja di dunia industri sebagai Programmer di PT Caltex Pacific Indonesia. Sebelum akhirnya menjadi dosen hingga sekarang di Jurusan Ilmu Komputer FMIPA Unri. Selama di Unri, jenjang karir sempat membawa Elfizar sebagai Kepala Laboratorium Komputasi, Sekretaris Program Studi, Ketua Program Studi Manajemen Informatika, hingga Ketua Jurusan Ilmu Komputer FMIPA Unri.
Pada gelanggang akademik, Elfizar giat meneliti isu teknologi informasi, virtual environment, Internet of Things (IoT), hingga kecerdasan buatan. Sejumlah publikasi ilmiahnya sukses menembus indeks Scopus dan IEEE Xplore.
Dirinya turut melebarkan sayap pengabdian pada sejumlah organisasi profesi. Ia memegang amanah selaku Ketua Umum Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) Provinsi Riau serta Wakil Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unri.
UNRI BERKIBAR Bawa Standar Kampus Modern
Keterikatan batin masa lalu membuatnya merasa perlu turun tangan menentukan arah kampus kelak. “Kita dilahirkan di sini, dibesarkan di sini. Ketika Unri mengharapkan bantuan kita, masa kita tidak ikut mengambil bagian?” tuturnya tegas.
Melalui slogan “UNRI BERKIBAR” yang merupakan akronim Bermutu, Kolaboratif, Indah, dan Terbaharukan, Elfizar bawa gagasan kampus bertata kelola modern. Menurutnya, Unri perlu segera berbenah agar mampu bersaing melawan perguruan tinggi lain di Sumatera.
Ia menilai sejumlah kampus pesaing justru berkembang lebih cepat, terutama dalam hal tata kelola dan internasionalisasi. “Kalau kita lihat sekarang, banyak perguruan tinggi dulunya di bawah kita [Unri], sekarang sudah nyalip kita,” sesalnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Elfizar menargetkan Unri berkembang jadi perguruan tinggi bertaraf global. Langkah awalnya dimulai lewat memperkuat posisi kampus di tingkat regional. “Target besar saya adalah bagaimana Unri menjadi universitas bertaraf global. Tapi mulai dulu dari terbaik di Sumatera,” katanya.
Sebagai pakar bidang informatika, Elfizar berambisi mempercepat transformasi digital kampus. Menurutnya, pelayanan administrasi selama ini masih butuh peningkatan agar lebih cepat dan efisien. “Saya ingin pelayanan prima untuk dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Semua pelayanan itu memang harus Information Technology based [berbasis teknologi],” ujarnya.
Ia mencontohkan birokrasi kemahasiswaan seperti pengurusan surat keterangan, legalisasi ijazah, hingga layanan akademik. Semuanya dinilai mampu berjalan murni secara digital tanpa menuntut mahasiswa hadir fisik.
“Mahasiswa tidak perlu lagi datang ke kampus hanya mengurus surat. Tinggal isi di aplikasi, nanti selesai bisa langsung diunduh,” terangnya. Sistem digital serupa diakuinya telah mulai diterapkan di lingkungan FMIPA sejak masa pandemi Covid-19.
Internasionalisasi, Kolaborasi, dan Kemandirian Ekonomi
Selain tata kelola, putra kelahiran Bengkalis ini turut menyinggung pentingnya penguatan internasionalisasi kampus. Salah satu program andalannya ialah peningkatan jumlah mahasiswa asing sebagai bagian langkah menuju kampus global. Kehadiran delegasi luar negeri tersebut ia nilai akan memperluas atmosfer akademik serta jejaring internasional. Meski demikian, ia memastikan keberadaan mahasiswa asing nantinya tidak akan mengurangi kuota mahasiswa lokal. “Kalau kita ingin bertaraf global, kita harus punya mahasiswa asing,” jelas Elfizar.
Beralih pada isu internal, Elfizar memandang komunikasi antara pimpinan universitas bersama mahasiswa sangat krusial dalam pengambilan kebijakan. Mahasiswa wajib dilibatkan karena mengantongi perspektif berbeda dibanding dosen maupun birokrat. Oleh karena itu, ruang penyampaian aspirasi mahasiswa harus terus terbuka. “Perspektif mahasiswa tidak bisa ditinggalkan. Harus diajak, karena perspektif dosen dengan mahasiswa itu beda,” jelasnya.
Merespons kebijakan efisiensi anggaran, Elfizar menyoroti penguatan sumber pendapatan. Kampus dituntut tidak sekadar menengadahkan tangan pada dana resmi negara, namun turut aktif mencari pemasukan lain melalui pengelolaan unit usaha maupun kerja sama eksternal. Ia pun menilai Unri sudah mempunyai potensi perputaran ekonomi di lingkungan kampus yang besar, mengingat unri memiliki ribuan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sebagai konsumen tetap.
“Kalau kita berharap hanya pada penerimaan resmi negara, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Harus punya terobosan mencari sumber pendapatan lain,” paparnya.
Menutup wawancara, Elfizar mengungkapkan pendaftaran bakal calon pemilihan Rektor Unri periode 2026–2030 akan berlanjut pada tahap penyampaian visi misi bakal calon. Mengerucutkan delapan pendaftar menjadi tiga nama pilihan senat universitas bersama kementerian. Senat Universitas Riau memegang porsi mutlak 65 persen suara, sedangkan pihak kementerian mengantongi 35 persen hak suara.
Pewarta: Muhammad Naufal Ihsan
Penyunting: Habibie

