BEM FISIP Unri Gelar Aksi Simbolik di Depan Gerbang Unri

BEM FISIP Unri Gelar Aksi Simbolik di depan Gerbang Unri/Dok. Pribadi

“Beeeep…Beeep! Tiiin! Tiiinnn….!” Suara klakson dari pengguna jalan saling bersahutan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (BEM FISIP Unri) menggelar aksi simbolik di depan Gerbang Unri. Massa memenuhi sisi Jalan HR Soebrantas pada Senin, 15 Juni 2026 pukul 16.15 WIB. 

Aksi ini bertajuk Indonesial Negara Kaya yang Dikeruk oleh Pemerintah. Massa aksi membawa spanduk bertuliskan “Klakson jika benci rezim” yang menarik perhatian pengguna jalan. Sepanjang aksi berlangsung, klakson kendaraan 

Gubernur mahasiswa BEM FISIP Unri, Taufik Hidayat mengatakan aksi digelar untuk menyuarakan keresahan atas buruknya tata kelola rezim Prabowo-Gibran. Ia berharap masyarakat sadar akan kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja. “Kita juga memberikan fasilitas untuk masyarakat bersuara terhadap pemerintahan, walaupun dalam bentuk klakson,” ujar Taufik.

BEM FISIP Unri Gelar Aksi Simbolik di depan Gerbang Unri/Dok. Pribadi
Massa aksi berdiri di median jalan. Membawa spanduk sembari berorasi/Dok. Pribadi

Aksi ini dihadiri oleh mahasiswa FISIP dan berbagai mahasiswa fakultas lain. Mereka membawa empat tuntutan, yaitu pengesehan revisi Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia (UU Polri), tata kelola Makan Bergizi Gratis (MBG), dana hibah Pemerintah Provinsi Riau terhadap polisi daerah dan kejaksaan tinggi, serta kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang membuat efek domino.

Nihil Respons Pemerintah, Kebijakan Pun Bikin Resah

Koordinator Aksi, Dio Prayoga mengatakan kebijakan dari pemerintah memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat. Mulai dari kenaikan harga yang dirasakan mahasiswa, hingga panjangnya antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum.

“Yang awalnya [makanan] sekitar Rp12-13 ribu bisa naik hingga Rp16-17 ribu. Kedua tentunya antrian BBM yang semakin Panjang,” ujar mahasiswa Ilmu Pemerintahan itu.

Penjual minuman serbuk instan tidak jauh dari lokasi, Thamril sependapat. Ia berpendapat situasi pemerintahan sekarang membawa dampak negatif bagi semua sektor, khususnya ekonomi Indonesia yang semakin sulit dirasakan oleh masyarakat. “Adapun uang, membelikannya sebentar aja langsung habis uang,” keluh Thamril atas nilai mata uang Indonesia yang semakin melemah.

Meski begitu, pria berumur 60 tahun itu memberikan semangat atas perjuangan mahasiswa yang turun aksi. “Teruskanlah perjuangan, hingga keadaan Indonesia menjadi lebih baik,” ujarnya.

Dio menjelaskan aksi tersebut hadir karena BEM FISIP telah melakukan aksi serupa dua kali, namun tidak ada tanggapan dari pemerintah. Pertama, mereka beraudiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau. Kedua, mereka membuka mimbar bebas di depan Kantor Gubernur Riau. Alhasil aksi kali ini menyasar tempat umum guna mencari atensi masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi Indonesia terkini. “Hari ini rasanya sia-sia kalau kita menyampaikan lansung ke pemerintah karena tidak ada hasilnya,” tuturnya. 

Aksi pun berjalan kondusif dan dikawal oleh satuan pengamanan Unri hingga selesai. Salah satu massa aksi, Lukman berharap agar pemerintah lebih peduli dan mendengarkan suara masyarakat. 

“Aksi ini bukan mengibaratkan kita untuk melawan. Bukan. Kita mau menyampaikan aspirasi dari masyarakat. Kalau bukan kita sebagai mahasiswa yang melakukan aksi tersebut, siapa lagi?” Ujarnya menutup wawancara.

Pewarta: Meisya Kafika Syahrany
Penyunting: Mutiara Ananda Rizqi