Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Pekanbaru menaja Festival Literasi pada Rabu, 17 Juni 2026. Salah satu rangkaian kegiatannya berupa agenda Wicara Literasi di Perpustakaan Tenas Effendy dengan tajuk Dari Program Menjadi Gerakan: Literasi dan Strategi Kampanye di Tengah Masyarakat. Acara ini dihadiri 120 peserta mencakup pegiat literasi, perwakilan lebih dari 10 komunitas lokal, serta Bunda Literasi tingkat kecamatan dan kelurahan se-Pekanbaru.
Duta Baca Kota Pekanbaru, Alifia Azzahra Hayati hadir sebagai moderator dalam memandu jalannya diskusi. Sesi menghadirkan dua narasumber utama, yakni Chandra Alfindodes dan Michiko Frizdew.
Baca juga: Cetak Rekor Terbanyak, Delapan Bakal Calon Rektor Unri Lulus Penjaringan
Chandra merupakan Duta Baca periode 2019-2023. Rekam jejak panjang membawanya mengikuti program pertukaran pendidikan antarnegara di Jepang, Korea, dan Italia. Sementara Michiko dikenal selaku pelatih komunikasi, penyiar televisi, sekaligus pendiri lembaga pelatihan MF Communications dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di industri media massa.
Membuka sesi pemaparan, Chandra memantik persoalan makna sejati literasi. Mayoritas peserta mengaitkan konsep tersebut sebatas pada aktivitas membaca dan menulis.
Chandra langsung meluruskan pandangan tersebut. Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, namun bertujuan pada inklusivitas sosial sebagai hasil akhir. Ia pun turut membagikan pengalamannya meninjau sistem literasi pendidikan di Korea Selatan. Masyarakat di sana dinilai berhasil mengelola literasi melalui sistem kedisiplinan mengikat.
Peserta Indonesia-Korea Teacher Exchange Program (IKTE) 2025 itu menceritakan pengalamannya selama di Korea. Pelajar di sana terbiasa melanjutkan aktivitas menuju lembaga bimbingan belajar usai menuntaskan sekolah formal hingga sore hari. Pembelajaran tambahan tersebut mencakup kelas seni, bahasa, hingga bela diri.
Lebih jauh ia menyoroti pentingnya ketersediaan sistem yang mendukung dan pemahaman lebih dalam akan literasi di Indonesia. “Jika pemahaman literasi hanya berhenti pada titik baca tulis, orang sering lupa tujuan akhirnya bermuara pada inklusi sosial,” tegas Candra.
Strategi Kampanye Efektif Ala Michiko
Beralih pada materi strategi kampanye, Michiko mengajak peserta menganalisis fenomena slogan iklan. Kesuksesan sebuah iklan yang melekat di ingatan publik selalu digerakkan oleh perancang strategi di balik layar.
Ia menjelaskan lima langkah krusial merancang kampanye efektif. Berawal dari penentuan isu secara presisi melibatkan unsur temuan, dampak, serta harapan. Kemudian penentuan target audiens. Pemetaan ini mencakup identifikasi kebiasaan, tantangan, penentuan figur pemengaruh (influencer), hingga pencocokan gaya pesan.
Merumuskan tujuan kampanye menjadi tahapan ketiga. Michiko memperkenalkan piramida perubahan audiens berisi fase kesadaran (awareness), ketertarikan (interest), pertimbangan (consideration), aksi (action), hingga pembelaan (advocacy).
Langkah keempat berfokus pada penyusunan pesan kampanye. Rumus pembuatan slogan jitu wajib menggabungkan unsur aksi nyata berdampingan dengan manfaat. Tahapan ini ditutup lewat penyusunan rencana kampanye menyeluruh.
Selama materi, Alumna Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau itu amat menekankan urgensi hingga kecermatan dalam membidik target kampanye. Kesalahan selama pemetaan tersebut berisiko meruntuhkan seluruh efektivitas pesan kampanye.
“Misalnya Taylor Swift diundang ke sini, tapi targetnya ibu-ibu. Tentu tidak relevan. Pemetaan ini sangat mempengaruhi penentuan komunikator kampanye kita,” tekannya saat menjelaskan.
Rangkaian wicara literasi ini akhirnya ditutup lewat sesi diskusi dua arah. Ratusan peserta melontarkan beragam pertanyaan silih berganti, merespons pemaparan kedua pemateri.
Pewarta: T. Natasya Shavia Azzahra
Penyunting: Habibie

