Di negara kita hari ini, pembicaraan soal gender sering kali berubah menjadi arena saling serang layaknya ring tinju. Sedikit saja ada perbedaan pendapat, debat di kolom komentar dijamin pasti memanas. Ada yang merasa feminisme sudah terlalu jauh dan memusuhi laki-laki, sementara di sisi lain banyak perempuan merasa pengalaman mereka terus diremehkan dan dianggap berlebihan. Akibatnya, ruang dialog yang seharusnya bisa dipakai untuk memahami persoalan justru berubah menjadi “perang kubu (dilihat-lihat seperti USA vs USSR saja)” yang melelahkan dan bahkan tidak berujung.
Padahal, sepengetahuan saya feminisme pada dasarnya lahir untuk mempertanyakan ketidakadilan yang selama ini dianggap normal. Gagasan tersebut sebenarnya bertujuan untuk membuka ruang agar perempuan bisa memiliki kesempatan, suara, dan pilihan hidup yang setara. Dalam perkembangannya, feminisme juga mulai melihat bahwa identitas gender tidak sesederhana “laki-laki kuat, perempuan lemah”. Sayangnya, di media sosial, pemahaman ini sering disederhanakan secara berlebihan dan berkonotasi negatif pada akhirnya.
Baca juga: Pemimpin Perempuan dan Stigma Gender
Tidak sedikit konten yang akhirnya memaknai feminisme sebagai kebebasan tanpa batas, bahkan kadang berubah menjadi sikap menyudutkan laki-laki secara umum. Kalimat seperti “laki-laki selalu jadi masalah” atau “perempuan tidak butuh laki-laki sama sekali” sering muncul sebagai bentuk pelampiasan emosi. Di sisi lain, ada juga laki-laki yang langsung menganggap semua kritik terhadap patriarki sebagai serangan terhadap identitas mereka. Akhirnya, kedua pihak sama-sama defensif dan lupa bahwa inti persoalannya bukan tentang membenci gender tertentu, melainkan membongkar pola pikir yang tidak sehat.
Persoalan misogini sendiri memang nyata dan tidak bisa dianggap sepele. Kasus kekerasan seksual, pelecehan, standar ganda terhadap perempuan, hingga budaya yang masih menilai perempuan dari penampilan atau kepatuhan menunjukkan bahwa relasi sosial kita masih banyak dipengaruhi oleh pola patriarkal. Banyak perempuan tumbuh dengan tekanan untuk selalu “menjaga citra”, sementara laki-laki dibesarkan dengan tuntutan untuk selalu kuat, tidak boleh lemah, dan tidak boleh menunjukkan emosi.
Salah Kaprah Feminisme dan Fenomena Misogini vs Misandry di Indonesia
Di tengah situasi itu, muncul pula pembahasan tentang misandri atau kebencian terhadap laki-laki. Fenomena ini biasanya terlihat di media sosial lewat generalisasi seperti “semua laki-laki sama saja” atau anggapan bahwa laki-laki hanya digerakkan oleh ego dan nafsu. Namun, penting dipahami bahwa misandri dan misogini tidak lahir dari konteks yang sama. Misogini tumbuh dalam struktur sosial yang sejak lama menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rentan, sedangkan misandri lebih sering muncul sebagai reaksi emosional, kekecewaan pribadi, atau kemarahan terhadap pengalaman buruk yang dialami perempuan.
Baca juga: Sahabat Puan Riau Taja Diskusi Interaktif, Usung Peran Laki-laki dalam Kesetaraan Gender
Masalahnya, media sosial membuat semuanya terasa semakin ekstrem. Algoritma lebih suka konten yang memancing emosi dibandingkan dengan percakapan yang tenang dan reflektif. Konten provokatif lebih mudah viral. Orang akhirnya lebih tertarik membela kelompoknya masing-masing daripada mencoba memahami akar persoalan. Sedikit demi sedikit, perang gender berubah menjadi identitas baru di internet: siapa yang paling tersakiti, siapa yang paling benar, dan siapa yang paling pantas disalahkan. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, banyak persoalan gender sebenarnya berakar dari budaya yang sama. Laki-laki ditekan untuk menjadi “mesin kuat” yang tidak boleh rapuh, sementara perempuan ditekan untuk memenuhi standar sosial tertentu agar dianggap baik dan layak. Dua-duanya sama-sama dibentuk oleh ekspektasi sosial yang sering kali tidak manusiawi.
Karena itu, feminisme yang sehat seharusnya tidak mendorong permusuhan antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki perlu didorong untuk lebih terlibat dalam urusan rumah tangga, pengasuhan anak, dan beban emosional keluarga, bukan hanya menjadi penanggung jawab finansial. Perempuan juga perlu diberi ruang untuk menentukan hidupnya sendiri tanpa stigma, sambil tetap menyadari bahwa kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab. Yang paling penting, kita perlu belajar membedakan antara masalah individu dan masalah sistem. Tidak semua laki-laki adalah penindas, dan tidak semua perempuan adalah korban yang selalu benar. Kritik seharusnya diarahkan pada budaya, pola asuh, sistem hukum, dan kebiasaan sosial yang melahirkan ketimpangan, bukan pada kebencian terhadap satu gender secara menyeluruh.
Mungkin perang gender akan terus muncul selama media sosial masih menjadikan kemarahan sebagai hiburan. Tetapi setidaknya, kita bisa mulai mengubah cara melihat persoalan ini bukan sebagai pertarungan antara laki-laki dan perempuan, melainkan perjuangan bersama untuk keluar dari budaya yang terlalu lama mengajarkan manusia untuk saling merendahkan.
Penulis: Hizkia Jonathan Purba, Mahasiswa Universitas Riau
*Rubrik opini, penulis bertanggung jawab atas keseluruhan isi. Bahana Mahasiswa dibebaskan atas tuntutan apapun. Silakan kirim opini Anda ke email bahanaur@gmail.com

