Per tahun 2026, Program Studi (Prodi) Agroteknologi Universitas Riau (Unri) menghadirkan peminatan khusus kelapa sawit. Hal ini merupakan tindak lanjut dari visi strategis pihak fakultas.

Ketua Jurusan Agroteknologi, Deviona mengatakan langkah ini didasari oleh arahan langsung dari Dekan Fakultas Pertanian Unri, Ahmad Rifai. Guna menjawab realitas penyerapan lulusan di lapangan kerja. “Alumni pertanian kita itu banyak sekali yang ke arah sawit, jadi memang perlu penguatan di bidang itu,” jelas Deviona pada Selasa, 3 Maret 2026.

Kurikulum 2024 memperkenalkan mekanisme pemilihan fokus studi yang lebih fleksibel dan berorientasi pada masa depan mahasiswa. Agroteknologi memberi kebebasan untuk menentukan arah minatnya mulai semester lima yang nantinya akan sinkron dengan rencana penelitian tugas akhir atau skripsi.

Pada struktur kurikulum yang baru, paket-paket mata kuliah pilihan dikategorikan dalam Pilihan A, B, dan C. Mahasiswa yang ingin memfokuskan diri pada kelapa sawit akan diarahkan mengambil mata kuliah yang relevan dengan budidaya, manajemen, hingga pemuliaan sawit. 

Transformasi Tata Kelola Jurusan dan Kemandirian Prodi

Awalnya perubahan tata kelola di Jurusan Agroteknologi Unri terjadi pada 2024. Deviona menjelaskan penyesuaian berakar dari kebijakan monodisiplin di lingkungan universitas. Sehingga pengalihan pengelolaan jenjang pascasarjana Ilmu Pertanian yang sebelumnya berada di bawah unit Pascasarjana, kini ditarik kembali ke Fakultas Pertanian.

Di tingkat Strata Satu (S1) penataan ulang ditandai dengan berdirinya Prodi Proteksi Tanaman dan Ilmu Tanah sebagai entitas program studi tersendiri. Meski telah menjadi prodi mandiri, keduanya tetap berada di bawah naungan Jurusan Agroteknologi. 

Pemisahan bertujuan untuk fleksibilitas bagi Agroteknologi dalam menata konsentrasi studi.  Sekarang Agroteknologi berfokus pada tiga pilar utama yaitu Pemuliaan dan Bioteknologi, Agronomi Umum, dan Kelapa Sawit.

Kata Deviona, bagi mahasiswa yang tertarik pada komoditas hortikultura, pangan, atau tanaman obat tetap dapat mengambil jalur agronomi umum tanpa kehilangan ruang eksplorasi. Pola ini memastikan setiap kredit semester yang diambil mahasiswa memiliki relevansi langsung dengan karya ilmiah yang akan mereka susun.

Jurusan memiliki kesempatan menata konsentrasi agar mahasiswa lebih leluasa memilih dengan pemisahan prodi. Maka mahasiswa tidak terpaksa masuk ke bidang tertentu karena masalah kuota lagi.

Fasilitas Lahan dan Laboratorium

Optimisme birokrasi dalam membuka peminatan ini didukung oleh klaim kesiapan sarana dan prasarana. Unri memiliki laboratorium terpadu yang didesain untuk menunjang berbagai kebutuhan riset. Selain fasilitas laboratorium, ketersediaan lahan praktikum juga menjadi salah satu poin krusial.

Sekretaris Jurusan Agroteknologi, Irfandi mengatakan aset lahan mineral dan lahan gambut di Rimbo Panjang milik kampus sudah ditumbuhi kelapa sawit. Pemanfaatan ini menjadi nilai tambah bagi peminatan sawit karena sawit yang ada masuk kategori tanaman menghasilkan.

Mahasiswa dapat melakukan penelitian nyata di lapangan. Mulai dari pengamatan pertumbuhan tanaman pada fase dewasa, manajemen pemupukan di lahan gambut, hingga simulasi pemanenan. “Kalau mau penelitian di pohon yang sudah berbuah, ya sudah ada di situ,” tambah Irfandi.

Tak hanya fasilitas fisik, jejaring internasional juga diperkuat. Jurusan menjalin kerjasama dengan Japan Research Institute for Humanity dalam riset peningkatan kualitas pendidikan di bidang pertanian dan lingkungan guna memberikan perspektif global bagi mahasiswa.

Tanggapan Mahasiswa Terhadap Konsentrasi Sawit

Mahasiswa Agroteknologi, Muhammad Zaki antusias menyambut peminatan ini. Dia memiliki latar belakang keluarga petani sawit dan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian. Zaki melihat peminatan ini sebagai cara meningkatkan nilai tawar mahasiswa di pasar kerja. “Saya suka sawit itu karena nampak hasilnya,” ujar Zaki.

Mahasiswa Agroteknologi, Syarifah lebih memilih jalur agronomi umum atau penelitian yang tidak terlalu berfokus pada lapangan. Dia menilai kehadiran peminatan sawit memperkaya pilihan bagi mahasiswa tanpa harus mematikan minat pada komoditas lain seperti tanaman hortikultura atau tanaman pangan.

“Harapan saya, fasilitasnya benar-benar dimantapkan agar peminatan baru ini memberikan hasil yang terbaik bagi mahasiswa,” tutur Syarifah. Ia bilang belum ada sosialisasi resmi dari pihak jurusan bagi angkatannya. Pun mengetahui informasi sebatas dari jadwal perkuliahan yang beredar. 

Pewarta: Mhd. Irsal
Penyunting: Wahyu Prayuda