Ramadhan di Ambang Kerapuhan: Perselisihan Penentuan Ramadhan yang Tak Pernah Usai

Seperti membaca kronik yang sama. Setiap kali bulan Ramadhan tiba, selalu saja ada tiga barisan berbeda yang muncul. Barisan pertama adalah orang-orang yang mengikuti penetapan awal dan akhir Ramadhan melalui hisab (metode penentuan awal bulan dengan perhitungan astronomi). Barisan kedua adalah orang-orang yang mengikuti ru’yatul hilal mathla’ (metode penentuan awal bulan dengan melihat bulan sabit di daerah sendiri). Dan barisan ketiga adalah orang-orang yang mengikuti ru’yatul hilal global (metode penentuan awal bulan dengan melihat bulan sabit di belahan dunia manapun).

Dari tiga barisan di atas, ada beberapa hal yang sudah selayaknya kita pahami dengan bijak. Pertama, ru’yatul mathla’ adalah pendapat yang sah untuk diikuti dan mu’tabar. Ru’yatul mathla’ juga pendapat yang dipercaya syafi’iyah. Kedua, ru’yatul global juga metode yang sah untuk diikuti, bahkan pendapat mayoritas dari banyak madzhab. Beberapa ulama sangat kuat dengan pendapat ini. Sampai-sampai ancaman penjara dari ekstrimis mereka hadapi demi mempertahankan pendapat ini. Ketiga, metode hisab juga sah karena ada landasan dalil syar’i yang membuka ruang ijtihad dalam penentuan waktu ibadah, juga didukung dengan perkembangan ilmu falak modern yang akuntabel.

Namun kita tidak sedang membahas ketiga metode tersebut. Karena ketiga metode tersebut merupakan hal lazim dalam dunia ijtihad yang membuka luas ruang ikhtilaf. Tetapi ada output yang tidak lazim dari ketiga metode tersebut, yakni perselisihan.

Tampaknya perselisihan penentuan Ramadhan sudah naik level menjadi perkara solidaritas kelompok (ashabiyyah). Seolah-olah umat Islam bukan lagi umat yang satu, melainkan umat yang multi organ. Lihat saja, pertanyaan penentuan Ramadhan mengikuti apa? Berubah menjadi mengikuti organisasi apa?

Islam terkenal dengan konsep ummatan wahidah nya. Tetapi umatnya antusias sekali dengan perselisihan. Berselisih di awal dan akhir bulan suci hanya mengundang tawa para setan yang sedang dibelenggu. Tidak ada keuntungan sama sekali dari perselisihan bagi umat Islam.

Dari banyaknya hal yang harus dipedulikan,  umat Islam sering sekali lena dengan hal-hal sederhana yang dihebohkannya sendiri. Begitu lenanya sampai-sampai umat lupa ia sudah sangat jauh dari Islam itu sendiri. Betapa rapuhnya kita, berselisih hanya karena perbedaan pendapat tentang tata cara penentuan bulan.

Perbedaan yang sejatinya telah terjadi sejak zaman sahabat rasul. Padahal, ada yang lebih penting daripada berselisih, seperti membangun persatuan, menciptakan kerukunan, dan memperkuat solidaritas. Alih-alih membangun persatuan seperti yang diajarkan nabi, umat Islam masa kini lebih gemar membanggakan dan mengagungkan kelompoknya sendiri, dan saling sikut-menyikut kelompok yang lain. Haruskah konsesi tambang bertindak, baru umat Islam bisa bersatu?

Sudah seharusnya umat Islam sadar akan perselisihan ini, dan segera bertanya, apa yang membuat mereka terpecah menjadi beberapa barisan seperti ini?

Sejatinya bukan metode apa yang harus kita salahkan, namun yang menjadi permasalahan adalah perpecahan, keterpisahan, dan pengkotak-kotakan berdasarkan garis-garis imajiner peta dunia yang tidak mu’tabar dalam fiqih manapun. Perkara ini akhirnya lebih besar dari hanya soal penentuan hari. Tapi soal bagaimanakah seharusnya eksistensi muslim sebagai ummat? Sayangnya pelik ditemukan ruang kritik isu ini. Padahal selain faktor astronomi, ada akar permasalahan yang jarang disentuh, yaitu konsep penyekatan umat yang harusnya menyatu.

Realita ummatan wahidah yang diharapkan Rasulullah ﷺ tampaknya semakin jauh karena kehadiran ide kebangsaan. Dengan kebangsaan umat Islam disibukkan dengan teritorialnya sendiri tanpa menyadari bahwa agama yang ia anut merupakan agama yang universal, tidak mengenal batas imajiner atlas. Akibat penyekatan kebangsaan, perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan tidak akan pernah menemukan titik akhir selama tidak ada satu otoritas yang diakui dan ditaati bersama.

Seperti musibah bagi mimpi ummatan wahidah. Seolah tak cukup disekat oleh teritori, umat hari ini juga disekat oleh pemikirannya. Justru ini lebih parah dari sekat kebangsaan. Setiap kelompok berdiri dengan kebenarannya sendiri. Penyekatan pemikiran membuat umat tetap terpecah belah, bahkan ketika mereka hidup dalam satu wilayah yang sama.

Semestinya kita menyadari, perselisihan tidak akan menghasilkan apa-apa selain memperparah perpecahan. Membuka ruang debat karna perbedaan pemilihan hari? Sama sekali tidak bermanfaat. Selayaknya berdamai pada masalah-masalah khilafiyah yang mu’tabar. Dan segera mengupayakan cita-cita ummatan wahidah yang tiada ikhtilaf di dalamnya.

Barangkali kita perlu menoleh sejenak. Di tempat lain, sahur pertama Ramadhan tidak disambut dengan hangatnya aroma kudapan sahur, melainkan dengan panasnya ledakan mortir, serta aroma darah sang martir yang belum sempat kering. Dan segera sadar kalau jauh di sana ada yang berbuka pertamanya bukan dengan suara azan maghrib, melainkan dengan dentuman bom dan suara ledakan dalam radius yang jauh lebih sempit dari jarak mathla’ syfi’iyah. Sebab apa? Sebab garis-garis imajiner yang nirfiqih, dan sama sekali tidak mu’tabar dalam kajian manapun.

Penulis: Muhammad Naufal Ihsan, Mahasiswa Agribisnis

*Rubrik opini, penulis bertanggung jawab atas keseluruhan isi. Bahana Mahasiswa dibebaskan atas tuntutan apapun. Silakan kirim opini Anda ke email bahanaur@gmail.com