Merespons kebebasan sipil yang kian menyempit, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pekanbaru menggelar aksi membuat zine. Berlangsung di area Car Free Day Kota Pekanbaru pada Minggu, 26 April 2026. Mengusung Tema Zine untuk Solidaritas, Perlawanan dan Kebebasan, aksi ini hadir sebagai bentuk ekspresi publik sekaligus perlawanan atas pembungkaman.
Sejumlah poster dibentangkan memuat beragam isu. Mulai dari kasus penyiraman air keras, kriminalisasi Khariq Anhar, hingga kebebasan berpendapat. Beralaskan tikar dan alat seadanya, tidak menghentikan antusiasme publik yang datang untuk membuat zine mereka sendiri.
Pengunjung yang tertarik dapat langsung mengambil tempat. Panitia menyiapkan beragam alat tulis, gambar, serta kertas untuk menghias. Di akhir sesi, peserta dapat mempresentasikan karyanya. Zine buatan peserta akan dikumpulkan kembali oleh LBH Pekanbaru dan dipublikasi dalam bentuk buku atau komik kecil.
Mahasiswa Universitas Riau, Nadhil datang bersama temannya. Awalnya ia hanya berkeliling, namun kerumunan tepat di trotoar Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau itu menarik perhatiannya. Menurut mahasiswa angkatan 22 tersebut, kegiatan membuat zine ini dapat menumbuhkan kesadaran akan demokrasi lewat cara kreatif. Ia mengaku merasa terasah saat memikirkan konsep zine yang akan dibuat bersama temannya.
“Jadi mikirin konsepnya tuh banyak debat dulu. Kami memikirkan apa yang harusnya dilakukan pemerintah, kami curahkan semua di sini,” jelasnya. Zine bertajuk Democracy or Democrazy pun akhirnya rampung.

Membahas permasalahan demokrasi, Nadhil menyebut karya mereka membahas konteks besar demokrasi di Indonesia. Dengan demonstrasi di mana-mana, kasus kriminalisasi yang terjadi, hingga kasus Khariq Anhar mereka bahas semua.
Penanggung Jawab acara, Idola Nami menyoroti kebebasan sipil kian merosot. Upaya menyuarakan isu lewat forum atau aksi sering menjadi alasan kriminalisasi. Adapun beberapa mengaitkannya dengan isu titipan. Itulah yang mendasari kegiatan zine kali ini. Agar ruang-ruang perlawanan juga diisi dengan kegiatan kreatif dan masyarakat dapat menyuarakan isi hati mereka tanpa merasa terancam.
Baca Juga: KKB Adakan Pelatihan Kebebasan Berekspresi
“Kita menggunakan zine sebagai bentuk perlawanan. Karena bagi kita zine bukan tentang menggambar, tetapi menyuarakan isi hati kita sebebas-bebasnya,” jelas Idola.
Melihat antusiasme masyarakat, Idola merasa bersyukur. Ia tidak menyangka banyak masyarakat umum di luar komunitas turut bergabung. Beberapa bahkan membawa anak mereka.
Lebih lanjut, alumnus Universitas Malikussaleh itu optimis kesadaran publik perihal kebebasan berpendapat akan meningkat. Kendati tidak secara langsung peduli situasi demokrasi Indonesia, setidaknya publik mengetahui isu yang sedang terjadi.
“Setidaknya mereka mulai aware [sadar] gitu. Ternyata ada isu ini yang diangkat, ternyata masyarakat Pekanbaru ada yang peduli. Setidaknya itu dulu,” paparnya.
Menanggapi pemahaman masyarakat perihal kebebasan sipil, Idola menyimpulkan ada beberapa masyarakat yang sadar namun tidak berani bersuara atau bingung cara menyuarakannya. Kriminalisasi para aktivis menjadi alasan masyarakat tidak berani bersuara. Sementara sisanya memilih apatis, tidak peduli.
Tantangan besar muncul saat publik melayangkan kritik atas kinerja pemerintah. Kendati represi kian masif, Idola berpesan agar publik tetap solid dalam perjuangan. “Kita juga harus berkelompok, bersolidaritas untuk merebut ruang sipil yang sudah jadi hak kita,” simpulnya.
Mengakhiri wawancara, Idola menilai pemerintah Indonesia hingga hari ini masih gagal. Indeks demokrasi turun, kebebasan sipil direbut, hingga rentetan kasus kriminalisasi terhadap aktivis menjadi bukti. Satu suara, Nadhil juga berharap agar institusi Indonesia dapat sadar diri dan segera berbenah.
Pewarta: M. Rizki Fadilah
Penyunting: Habibie

