Rupiah Tertekan, IHSG Terguncang, Ada Apa dengan Ekonomi Kita?

Rupiah Tertekan, IHSG Terguncang, Ada Apa dengan Ekonomi Kita?/Dok. Freepik

Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi yang ditulis oleh seorang mahasiswa hukum yang kebetulan mengikuti dan menjadi pegiat dunia pasar modal dan ekonomi. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi individual atau rekomendasi keuangan, melainkan sebagai pandangan rasional atas situasi ekonomi dan keuangan Indonesia saat ini.

Pasar keuangan Indonesia sedang mengirim sinyal yang serius. Pelemahan IHSG, tekanan pada obligasi, turunnya daya tarik deposito, dan merosotnya nilai tukar rupiah menunjukkan bahwa kepercayaan pasar sedang berada dalam fase yang rapuh. Pada saat yang sama, ekonomi Indonesia justru masih mencatat pertumbuhan 5,61 persen pada triwulan I-2026 dan inflasi April 2026 tetap terkendali di level 2,42 persen, sehingga muncul sebuah pertanyaan: jika fondasi makro masih cukup baik, mengapa pasar tetap terlihat gelisah?

Menurut hemat saya, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tidak sedang menilai masa kini semata, melainkan sedang menghitung risiko masa depan. Pasar selalu bergerak berdasarkan ekspektasi, bukan hanya berdasarkan data yang sudah terjadi. Karena itu, angka pertumbuhan yang baik belum tentu cukup untuk menenangkan investor ketika sentimen global memburuk, arus modal asing melemah, dan rupiah terus berada di bawah tekanan. Pelemahan pasar lebih tepat dibaca sebagai koreksi atas persepsi risiko daripada bukti bahwa ekonomi nasional sedang kolaps.

Dari sudut pandang makro ekonomi, menurut hemat saya sejauh ini Indonesia belum kehilangan daya tahan. Pertumbuhan 5,61 persen menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih bergerak, sementara inflasi 2,42 persen menandakan stabilitas harga relatif terkendali (meskipun kedua data ini masih diperdebatkan hingga saat ini). Terlepas dari itu, data ini dijadikan gambaran bahwa konsumsi, produksi, dan pengelolaan moneter belum berada dalam kondisi krisis. Namun sayangnya, pasar keuangan tidak pernah hanya melihat satu sisi. Investor juga membaca kualitas pertumbuhan, realitas pergerakan ekonomi di lapangan, kesinambungan stabilitas, dan kemampuan negara menjaga kepercayaan di tengah tekanan global.

Di sinilah letak persoalannya. Indonesia adalah ekonomi yang cukup kuat secara domestik yang hal ini dibuktikan dengan kurang lebih 90% ekonomi kita ditopang oleh sektor dalam negeri, tetapi belum sepenuhnya kebal terhadap guncangan eksternal. Ketika sentimen global berubah menjadi lebih hati-hati, investor cenderung menarik dana dari aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia. Dampaknya langsung terasa pada rupiah, pasar saham, dan obligasi. Saat rupiah melemah, biaya impor naik, tekanan terhadap perusahaan yang memiliki kewajiban valas ikut meningkat, dan pasar obligasi menuntut imbal hasil lebih tinggi. Ketika obligasi tertekan dan saham melemah bersamaan, publik pun melihat seolah seluruh instrumen sedang memburuk pada saat yang sama.

IHSG yang juga melemah dalam situasi seperti sekarang bukan cuma soal turunnya harga saham. Kondisi IHSG saat ini mencerminkan penurunan keberanian pelaku pasar untuk mengambil risiko. Investor menjadi lebih selektif, lebih defensif, dan cenderung menahan dana sampai ada kejelasan arah. Ini berarti pasar sedang meragukan bukan semata kemampuan perusahaan menghasilkan laba, tetapi juga kestabilan lingkungan ekonomi tempat perusahaan beroperasi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, pelaku pasar belum benar-benar yakin bahwa tekanan yang terjadi sekarang akan segera mereda.

Baca juga: Putusan MK No. 123/PUU-XXIII/2025, Membuka Ruang Mengembalikan Kewenangan Peninjauan Kembali Kejaksaan dalam Perkara Surya Darmadi

Hal yang sama berlaku pada obligasi. Banyak orang mengira obligasi selalu identik dengan keamanan, padahal dalam situasi gejolak, harga obligasi juga bisa turun ketika investor meminta premi risiko yang lebih tinggi. Kenaikan yield pada surat utang negara pada dasarnya adalah sinyal bahwa pasar menginginkan kompensasi lebih besar untuk memegang aset rupiah. Menurut hemat saya, ini bukan semata persoalan teknis pasar keuangan, tetapi cerminan dari tingkat kepercayaan terhadap stabilitas. Karena logikanya begini, jika kepercayaan kuat maka tekanan bisa mereda dan jika kepercayaan menurun, harga obligasi akan terus rentan.

Sementara itu, deposito yang selama ini dipandang sebagai pelabuhan aman justru tidak otomatis menjadi solusi terbaik. Dalam iklim ketidakpastian seperti saat ini, deposito memang memberi rasa aman, tetapi imbal hasilnya sering kali tidak cukup menarik untuk mengimbangi tekanan inflasi, pelemahan rupiah, dan peluang hasil di instrumen lain. Karena itu, melemahnya daya tarik deposito bukan selalu berarti bank bermasalah, melainkan menunjukkan bahwa masyarakat sedang mencari keseimbangan antara keamanan, likuiditas, dan hasil investasi. Dan kejadian ini sebenarnya adalah gejala yang lazim ketika ekonomi memasuki fase transisi yang penuh kehati-hatian.

Kalau kita berbicara dari sisi mikroekonomi, tekanan ini pada akhirnya akan turun ke tingkat rumah tangga dan pelaku usaha. Perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku akan menghadapi biaya yang lebih tinggi. Pelaku usaha juga menjadi lebih berhati-hati menambah ekspansi ketika kurs bergejolak dan pasar modal tidak stabil. Lingkup rumah tangga yang meskipun belum merasakan lonjakan harga yang ekstrem, tetap dapat terkena dampak melalui mahalnya barang impor, harga bahan kebutuhan mengalami kenaikan, tertahannya penciptaan kerja baru, dan meningkatnya kecemasan terhadap masa depan ekonomi. Dengan kata lain, volatilitas pasar yang semula terlihat hanya sebagai angka di layar perdagangan perlahan dapat menjalar menjadi tekanan nyata dalam kehidupan ekonomi kita sehari-hari.

Karena itu, menurut saya tantangan Indonesia hari ini bukan sekadar menjaga pertumbuhan, tetapi menjaga keyakinan juga. Pemerintah tidak cukup hanya mengumumkan bahwa ekonomi baik-baik saja, pemerintah harus mampu menunjukkan bahwa stabilitas benar-benar dijaga melalui kebijakan terutama fiskal yang konsisten, tepat sasaran, dan kredibel. Bank sentral perlu terus menjaga rupiah dan ekspektasi inflasi. Pemerintah juga harus bisa memastikan bahwa belanja negara diarahkan untuk memperkuat produktivitas, menopang daya beli, dan mendorong sektor-sektor yang memberi nilai tambah tinggi. Tanpa kredibilitas kebijakan tersebut, angka makro yang baik pun bisa kehilangan daya tenangnya di mata pasar.

Dalam sudut pandang finansial, pendekatan yang paling masuk akal pada fase ini adalah sikap defensif yang rasional serta sebisa mungkin kendalikan diri terhadap kepanikan. Investor individu perlu menjaga likuiditas, menghindari keputusan emosional, dan masuk ke aset secara bertahap dengan seleksi yang ketat. Saham tetap menarik bagi yang berjangka panjang, tetapi saya sedikit menyarankan hanya untuk emiten yang punya fundamental kuat, arus kas sehat, dan ketahanan yang baik terhadap tekanan kurs. Obligasi pun sebenarnya dapat menjadi peluang jika yield sudah menarik, sedangkan deposito menurut saya bisa tetap relevan untuk dana darurat dan kebutuhan jangka pendek. Intinya, strategi terbaik bukan mengejar keuntungan cepat, melainkan menjaga posisi agar tetap tahan dalam ketidakpastian.

Pada akhirnya, pelemahan IHSG, obligasi, deposito, dan rupiah seharusnya dibaca sebagai alarm yang berguna, bukan sebagai alasan untuk menyerah pada pesimisme. Menurut hemat saya, ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup baik, tetapi fondasi itu sedang diuji oleh kerasnya perubahan sentimen global dan belum tuntasnya kerentanan domestik, serta kebijakan fiskal yang cenderung kurang tepat sasaran. Oleh karena itu, justru dalam momen seperti inilah kualitas kebijakan publik, kedewasaan pasar, dan ketahanan pelaku ekonomi akan menentukan arah ke depan. Bila respons negara kita tepat, tekanan ini bisa menjadi fase penyesuaian. Namun bila diabaikan, tentu dapat berubah menjadi masalah kepercayaan yang lebih dalam dan bisa berefek domino yang jauh lebih luas.

Penulis: Hizkia Jonathan Purba, Mahasiswa Universitas Riau

*Rubrik opini, penulis bertanggung jawab atas keseluruhan isi. Bahana Mahasiswa dibebaskan atas tuntutan apapun. Silakan kirim opini Anda ke email bahanaur@gmail.com