Perilisan seri kelima animasi legendaris Pixar, Toy Story pada pertengahan Juni lalu kembali memancing ragam reaksi penikmat sinema. Sutradara film, Andrew Stanton, kembali membawa kisah mainan klasik ini dengan realita keras di era digital. Film ini tidak sekadar menjual nostalgia masa lalu, karakter mainan favorit kita kini menghadapi masalah terberat sepanjang petualangan mereka, perkembangan zaman yang membawa teknologi dan merenggut waktu bermain anak-anak.
Kisah bermula tiga tahun setelah perpisahan Woody pada seri keempat bersama mainan-mainan lainnya. Jessie memegang kendali penuh atas kamar Bonnie bersama Buzz Lightyear. Sayangnya, ketenangan mereka sirna seiring kemunculan gawai pintar bernama Lilypad. Tablet canggih tersebut menyita perhatian Bonnie setiap waktu. Membuat anak itu enggan menyentuh koleksi mainan sama sekali dan beralih memainkan game daring guna mendapatkan teman. Musuh mereka kini bukan sekadar mainan model baru, akan tetapi perkembangan zaman yang kembali membuat mereka bertanya, “Apakah tugas kita sebagai mainan telah selesai?” Kondisi ini memicu krisis eksistensi luar biasa bagi para mainan Bonnie yang telah ada sejak bertahun-tahun lalu di sana.
Alur cerita memanas ketika Bonnie memutuskan menginap di rumah teman barunya. Jessie bersama kuda kesayangannya, Bullseye, diam-diam menyelinap ikut mengawal kepergian sang pemilik untuk sekadar memastikan Bonnie tetap aman beradaptasi di lingkungan baru. Tiba di lokasi, teman barunya justru menertawakan Bonnie yang membawa mainan. Merasa malu, Bonnie terpaksa meninggalkan Jessie dan Bullsyeye, kemudian kembali menenteng Lilypad demi bisa diterima teman barunya.
Jessie dan Bullseye nekat mencari jalan keluar. Sialnya, seorang nenek menemukan mereka lalu mengirimkan boneka tersebut menuju alamat Emily, pemilik pertama Jessie, mengikuti ukiran nama dan alamat yang ada di sepatunya.
Bonnie akhirnya pulang ke rumah dan Buzz yang menyadari ketiadaan Jessie lalu bergegas merancang misi pencarian Jessie. Woody di pertengahan muncul menampakkan diri lagi demi membantu mencari sahabat lamanya.
Perjalanan mencari Jessie mempertemukan Buzz dan Woody dengan puluhan pasukan Buzz Lightyear edisi modern nan canggih. Interaksi antara karakter beda generasi ini memicu bumbu komedi segar sepanjang durasi petualangan.
Di balik komedi tersebut, premis cerita menampar keras realita masa kini. Penonton diajak melihat ironisnya fenomena kecanduan layar sentuh bagi anak-anak secara langsung. Peran mainan yang memberikan imajinasi murni perlahan mati tergilas candu layar digital.
Stanton cerdas menyajikan metafora krisis relevansi lewat kacamata mainan usang. Ketakutan terhadap deretan mainan analog sangat merepresentasikan kecemasan manusia masa kini yang menghadapi risiko kehilangan pekerjaan akibat tergantikan oleh mesin digital. Masyarakat luas kian terasingkan akibat gempuran otomatisasi serta kecerdasan buatan. Mainan fisik dipaksa bersaing melawan sistem operasi canggih.
Di balik semua itu, sisi visual film ini tidak perlu diragukan lagi. Detail tekstur kusam pada tubuh mainan lama sangat kontras berhadapan dengan kilauan layar mulus Lilypad. Hasil garapan animator Pixar ini tersaji memanjakan mata penonton sejak menit pertama hingga akhir.
Meski visualnya bisa dibilang sempurna dan ceritanya yang bertabur pesan mendalam, resolusi akhir film ini terasa kelewat sederhana. Penyelesaian masalah kecanduan gawai diselesaikan secara terburu-buru. Tim penulis naskah juga kurang berani mengambil risiko mengeksekusi penutup cerita yang lebih kelam.
Secara keseluruhan, Toy Story 5 tetap seru untuk masuk daftar tontonan akhir pekanmu. Hasil garapan animasi Pixar yang disajikan sangat memanjakan mata. Karya ini memotret jelas kecemasan eksistensial manusia di tengah pusaran arus teknologi yang kian melaju kencang.
Penulis: Habibie
Penyunting: Muhammad Naufal Ihsan

